Bioskop Galoenggoeng, 1925 Dok. Soekapoera Institute
Historia

Bioskop Galoenggoeng; Pertama di Tasikmalaya, Memutar Film-film Amerika dan Eropa

initasik.com, historia | Malem Minggoe, Senen 3-4 Jan, 1931, Metro Goldwyn Mayer mempertoendjoekken Greta Garbo dan Conrad Nagel dalem tjerita “Despionne” (Spion Prampoean).

Begitu salah satu iklan Galoenggoeng Bioscoop yang dimuat di salah satu koran di Tasikmalaya, 1931. Dalam iklan itu ditulis, “Greta dan Conrad doea bintang jang terkenal di doenia film. Siapa jang melihat ini film tentoe djadi poeas, sebab ini soenggoe ada satoe film jang menarik hati. Lihat bigimana satoe prampoean tjantik djadi spion boeta belah negrinja.”

Waktu itu, film “Despionne”  menjadi salah satu yang terfavorit, selain “Quichotte en Pancha” yang dibintangi oleh Montana Bill yang terkenal dengan adegan-adegan film cowboy di masa itu, film komedi “Rok Pendek” yang dibintangi Sydney Chaplin, film “Barnum Was Right” yang dibintangi Glenn Tryon dan Merna Kennedy, film “The Big City” yang dibintangi Lon Chaney dan L. Young, serta beberapa film lainnya.

Masyarakat Tasikmalaya memang sudah mengenal film atau sinema sejak 1917. Pada dekade 20 sampai dengan 30-an, Tasikmalaya sudah memiliki tiga gedung bisokop, yaitu Bioskop Galoenggoeng, Luxor Theater, dan Roxy Theater.

Dalam jurnal “Sejarah Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya” yang disusun Soekapoera Institute dijelaskan, Bioskop Galoenggoeng adalah bioskop yang pertama ada di Tasikmalaya. Berdiri sejak akhir tahun 20-an. Tempatnya di gedung Galoenggoeng Societiet. Menurut cerita, tempat itu merupakan pusat orang-orang Eropa mengadakan acara hiburan musik dan dansa. Posisinya sangat strategis, berada di pusat kota, samping Masjid Agung Tasikmalaya.

Mulai 1929, bioskop tersebut aktif mengiklankan pementasan sinema pada koran Sipatahoenan. Pada 1931, Bioskop Galoenggoeng mempertunjukan film berbahasa melayu yang sangat fenomenal pada masa itu dengan judul “Terpaksa Menikah”.

Film itu karya pribumi Sunda yang dibuat di kota Bandung. Musik pengiringnya keroncong, kacapi suling, dan stamboel yang dinyanyikan oleh penyanyi Indonesia yang sedang populer pada masa itu.

Setelah melihat respons masyarakat terhadap bioskop terbilang bagus, A.A. Kock, seorang pengusaha, mendirikan Luxor Theater 1930-an. Lokasinya berdekatan dengan Bioskop Galoenggoeng. Film yang diputar merupakan produk Amerika dan Eropa.

Enam tahun kemudian, 1938, A.A. Kock membuka Roxy Theater di Jalan Gunung Sabeulah. Sama halnya dengan dua bioskop sebelumnya, Roxy pun memutar film-film populer dari Eropa dan Amerika. Gedung teater ini tidak hanya digunakan untuk pemutaran film, tetapi juga digunakan untuk pementasan teater. Selain untuk hiburan, gedung Roxy Theater sering digunakan untuk acara-acara pertemuan perhimpunan pergerakan di Tasikmalaya.

Pada April 1938, bioskop itu digunakan tempat Kongres J.O.P. yang kelima. J.O.P. adalah salah satu organ kepemudaan Pagoejoeban Pasoendan. Pada masa kemerdekaan bioskop ini mengalami dua kali pergantian nama yaitu, bioskop Trio dan terakhir bernama bioskop Nusantara.

Setelah merdeka, dunia hiburan Tasikmalaya semakin bergairah dengan kehadiran bioskop baru. Di antara bioskop yang muncul adalah bioskop Merdeka di jalan Yudanagara, yang berganti nama menjadi bioskop Hegarmanah; bioskop Garuda yang terletak di jalan doktor Soekardjo, yang pada tahun 50-an terkenal sebagai bioskop untuk kelas menengah ke atas.

Pada era 80-an, Tasikmalaya diramaikan bioskop baru. Pada era ini, seorang pengusaha bernama Tuan Nizar menguasai industri pertunjukan di kota Tasikmalaya. Bioskop baru yang muncul pada era ini adalah Tasik Theater yang dibangun di atas komplek Pasar Tasikmalaya; Bioskop Parahyangan di Gunungsinga Jalan Yudanagara, yang pada masa itu merupakan bioskop yang paling nyaman dengan fasilitas yang cukup lengkap dan modern; dan pada tahun 90-an, muncul bioskop Empire yang memiliki 4 studio yang berada di Matahari Dept. Store Gunung Pereng, dan terbakar pada tahun 1996.

Seiring dengan perkembangan teknologi yang memudahkan akses masyarakat untuk menikmati hiburan perfileman, bioskop-bioskop di kota Tasikmalaya pun secara serentak mengalami kelesuan dan kemunduran. Bioskop tidak lagi menjadi tren gaya hidup masyarakat Tasikmalaya. ***

Komentari

komentar