Ekbis

Bisnis Bangkrut, Hal Pertama yang Dilakukan Agi Apriadi Adalah Tobat

initasik.com, ekbis | Bukannya sibuk mencari kerja, lulus kuliah di Jurusan Manajemen Universitas Siliwangi, Agi Apriadi malah dibuat pusing mencari cara membayar utang ratusan juta rupiah. Bisnisnya bangkrut.

Awal 2015, Agi merintis usaha rumahan. Putra dari Cece Sumardi dan Heni Hendrawati itu membuat keripik cokelat. Mereknya StiCho. Booming. Kendati baru dipasarkan, penjualan meledak. Dalam sebulan laku puluhan ribu bungkus.

Bahkan, beberapa artis terkenal sempat mengendorse keripiknya. Namun, kesuksesannya itu tidak bertahan lama. Hanya dalam hitungan bulan, usahanya langsung bangkrut. “Intinya karena kesalahan manajemen,” sebutnya.

Lantaran gulung tikar, ia mesti menanggung utang sampai ratusan juta rupiah. Rekan bisnisnya balik kanan tanpa tanggung jawab. Ia dibuat tertekan. Mentalnya pun goyah. Menurutnya, kebangkrutan usahanya itu disebabkan kesalahan manajemen.

Ia terlalu berambisi mendapat untung besar. Estimasinya sampai miliaran rupiah. Target meleset. “Orang lain ketika lulus kuliah bingung mencari kerja, saya tidak. Saya bingung mencari uang untuk bayar utang,” ujarnya.

Di tengah kondisi seperti itu, ia gamang. “Hal pertama yang saya lakukan saat down adalah tobat. Saya datang ke ustaz, bukan dukun, minta pencerahannya. Ia menyarankan agar jangan terlewat salat berjamaah. Saya lakukan itu. Alhamdulillah berangsur membaik. Dulu, dalam berusaha saya tidak melibatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tuturnya.

Meski masih punya banyak utang, ia memberanikan diri untuk menikah. Calon istrinya diberi dua pilihan, menikah atau putus. Akhirnya menikah dengan Rizky Rachmawatty. Sampai sekarang, istrinya itu masih kuliah. Sedang menyusun skripsi.

Kondisinya berangsur membaik. Ia bangkit lagi. Membuka kedai di Jl. Rumah Sakit, Kota Tasikmalaya. Namanya Stitaco. Bukan satu. Agi sudah punya dua tempat. Satunya lagi di Jl. Panglayungan 3.

“Sekarang yang sedang hits di kedai kami itu adalah ayam geprek. Kata orang-orang rasanya enak. Kami terus berinovasi. Jangan pernah takut untuk mencoba. Saya pernah gagal beberapa kali. Sebelum membuat keripik coklat, sempat bikin ranginang coklat, putu coklat, berbagai inovasi. Di kedai juga sempat gonta-ganti menu,” tuturnya. [Jay]