Bobodoran PKL Jalan Cihideung
Refleksi

Bobodoran

Sejak dulu urang Sunda terkenal suka guyon. Tukang ngabodor. Hal apapun bisa dijadikan materi guyon. Termasuk dalam ranah politik dan kebijakannya. Mereka mungkin tidak sedang ngabodor, namun telah banyak hal yang pikaseurieun, meski tidak matak ngabarakatak.

Alih-alih membuat terpingkal, humor gaya politisi lebih sering membuat kita terpental. Kaget dengan kebijakan mereka. Seperti tanpa akal. Cenderung gila. Akal sehatnya entah di mana. Coba tengok kebijakan penataan para pedagang kaki lima di Cihideung, Kota Tasikmalaya.

Luar biasa. Itu adalah kebijakan yang sangat bodor sekali. Ratusan pedagang yang menurut aturan melanggar aturan karena jualan di trotoar, eh malah diajak lebih melanggar aturan dengan dagang di jalan. Hampir separuh jalan Cihideung berubah jadi lapak PKL.

Hebatnya, pemerintah mengeluarkan uang Rp 1,2 miliar untuk penataan itu. Buat beli gerobak. Kini, gerobak-gerobak itu banyak yang sudah rusak. Padahal usianya belum satu tahun. Mereka pun diberi surat keterangan tempat usaha sebagai bukti legalitas berusaha.

Hasilnya? Benar-benar berubah. Jl. Cihideung tak seperti dulu lagi. Sekarang tambah sareukseuk.  Macet sudah pasti. Wajah pusat kota jadi cacat. Sebelum jadi cacat permanen, segera lakukan tindakan sadar nurani.

Perlakuan berbeda ditunjukkan pemerintah kepada para pedagang pasar kojengkang di Dadaha. Mereka yang berjualan seminggu sekali itu harus dipindahkan dari jalan lingkar stadion ke area GOR Sukapura. Katanya sementara. Permanennya nanti di belakang GGM. Namun, sampai sekarang belum juga ditunaikan.

Bodornya lagi, saat ini lapang Dadaha sedang dipakai hajat pemilik modal untuk meraup untung besar dalam waktu sesaat. Selama tiga pekan lapang itu dipakai aktivitas perdagangan. Ada transaksi jual beli. Mirip pasar kojengkang yang dilarang jualan lantaran menggunakan fasilitas umum. Padahal, tempo lalu para pedagang kojengkang sempat minta direlokasi ke lapang itu, tapi tidak diizinkan.

Untuk masuk ke arena pameran, warga harus bayar Rp 7.000. Anehnya, ada saja orang yang mau masuk ke sana, meski sebenarnya sama saja dengan masuk ke Pasar Cikurubuk dan pasar lainnya yang gratis tanpa tiket masuk. Bahkan, masuk ke mal yang harum dan full AC pun tanpa pungutan uang masuk alias gratis. Bodor. Masyarakat diajarkan untuk berpikir tanpa akal sehat.

Bukan hanya lapang Dadaha, trotoarnya pun dipakai dagang. Malah itu dijual. Ada harganya. Aneh. Apakah dalam Perda Ketertiban Umum ada pasal pengecualian yang membolehkan trotoar dipakai jualan jika dalam rangka Tasik Fantasi, misalnya? Bodor. Uang memang bisa membuat segalanya menjadi mungkin. ***

Foto: Trotoar di Dadaha, dekat Gelanggang Generasi Muda, penuh oleh pedagang kaki lima yang turut dalam acara Tasik Fantasi.

Komentari

komentar