Peristiwa

Buat Jera Pembuang Sampah Sembarangan

initasik.com, peristiwa | Terhadap pelanggaran ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 38 ayat (1) huruf a, ayat (3), ayat (4) dan ayat (5) diancam dengan sanksi pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling besar Rp. 50.000.000 (lima puluh juta rupiah).

Begitu bunyi pasal 47 ayat 2 dalam Perda 7/2012 Tentang Pengelolaan Sampah di Kota Tasikmalaya. Peraturan tersebut disahkan pada 2 Oktober 2012. Namun, hingga sekarang penanganan sampah masih semrawut.

Kendati dalam Perda tersebut ditegaskan hukuman bagi pembuang sampah sembarangan, saat ini ada 70 lebih TPS liar. Masyarakat masih bebas membuang sampah di mana saja, termasuk di atas trotoar.

Kepala Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Kota Tasikmalaya, Iwan Setiawan, mengatakan, pihaknya belum bisa menegakkan perda itu karena masih berkoordinasi dengan instansi terkait, seperti Satpol PP yang berwenang menegakkan perda. “Saya sendiri baru satu bulan menjabat kabid kebersihan,” imbuhnya.

Untuk mengatasi permasalah TPS liar, Iwan mengaku pernah melakukan operasi malam guna menangkap para pembuang sampah sembarangan. Namun, alih-alih diberikan hukuman sesuai Perda, pihaknya malah memberikan sanksi sosial.

“Saat itu kita dapat tujuh orang. Kami tangkap. Dari tangkapan tersebut kami beri hukuman sosial saja. Kalau dengan perda itu hukumannya denda 50 juta rupiah atau kurungan 3 bulan,” ujarnya, Jumat, 14 September 2018.

Belum diterapkannya perda tersebut lantaran terkendala masalah koordinasi dengan instansi terkait lain. Jika Perda tersebut sudah dijalankan, ia yakin masyarakat akan jera buang sampah sembarangan.

Menurutnya, edukasi kepada masyarakat dalam pengelolaan sampah pun penting untuk ditingkatkan. Selama ini pihaknya sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat terhadap pengelolaan sampah.

“Penanganan sampah itu bukan hanya tugas Pemerintah, tetapi seluruh elemen. Terlebih saat ini kami belum bisa melayani seluruh kecamatan yang ada di Kota Tasikmalaya. Sekarang baru 6 kecamatan yang terlayani oleh 22 dumb truck, sehingga banyak muncul TPS-TPS liar. Solusinya, kami membuat tim 3R (Reduce, Re-use, Recycle), dan alhamdulilah sekarang sudah ada 16 tim,” beber Iwan. [Eri]