Kotak tempat budi daya cacing sutra | Eri/initasik.com
Ekbis

Budi Daya Cacing Sutra, Dede Mengaku Beromzet Rp 20 Juta Sebulan

initasik.com, ekbis | Orang-orang menyebutnya cacing sutra. Mungkin karena terlihat sangat halus. Cacing yang dimasukkan pada kelompok nematoda itu hidupnya di sungai yang memiliki arus air cukup deras. Mereka bergerombol di atas batu, lumpur, atau kayu.

Konon, cacing sutera bagus untuk pakan lele, ikan patin, atau bibit gurami. Juga baik untuk makanan ikan hias, karena banyak yang percaya bahwa kandungan pigment dalam cacing sutera sangat bermanfaat untuk pertumbuhan dan warna ikan hias, seperti koi dan oscar.

Melihat adanya potensi yang menguntungkan, sebagian orang menggunakan cacing sutra ini sebagai lahan usaha. Misalnya Dede Iron, salah satu petani cacing sutra di Kota Tasikmalaya. Di atas kolam ikan, Dede membuat 17 petak kayu berukuran setengah meter yang dijadikan tempat untuk budidaya cacing sutra.

Ia sudah membangun usahanya itu selama kurang lebih sepuluh tahun dan dikelola oleh adik – adiknya. Tempat budidaya cacing sutra milik Dede Iron ini terletak di Kelurahan Bantarsari, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya. Tempatnya sedikit tersembunyi lantaran terhalangi oleh proyek penggilingan batu.

“Tanyakan saja di mana Bantarsari atau tempat penggilingan batu Haji Handri. Kolam cacing saya ada persis di bawah tempat penggilingan batu itu,” ujar Dede, Rabu, 16 Agustus 2017.

Biasanya, Dede dan adik-adiknya mencari cacing sutra di sekitaran sungai Cimulu, kawasan sungai di daerah Cikurubuk, atau di belakang terminal Indihiang. Dalam satu hari, mereka bisa mendapatkan 20 sampai 30 kilogram cacing. Itupun jika sedang banyak. Cuaca menjadi faktor utama ketersediaan cacing di alam.

“Kalau cuaca kemarau, cacing susah. Makanya saya kadang bingung padahal permintaannya tinggi,” aku pria berusia 50 tahun itu

Menurutnya, permintaan cacing sutra ini tinggi. Sedangkan petani cacing sutra tidak banyak. “Di Tasik saja, penjual ikan ada berapa? Banyak, kan? Belum lagi peternak-peternak ikan, seperti lele. Mereka biasanya gunakan cacing sutra ini, karena selain perkembangannya cepat, daya tahan tubuh lele juga jadi bagus,” terangnya.

Konsumenyapun berasal dari berbagai daerah, mulai dari Rajapolah, Panumbangan, Ciawi, Sindangkasih, Cikoneng, sampai Banjar. Salah satu permintaan yang tinggi adalah dari Banjar. Dua hari sekali pesan 50 kilogram.

Satu kilogram cacing sutra, Dede Iron biasa menjualnya 25 ribu rupiah. Ia mengaku, omzet perbulannya sampai Rp 20 juta. “Tapi itu dibagi lagi dengan adik-adik. Ini, kan, usaha milik bersama. Bersihnya per orang dapat Rp 6 juta mah nyampe lah,” sebutnya. [Eri]