Dok. Madjalah Merdeka
Historia

Buruh Perkebunan Mogok Kerja, Orang Eropa dan Amerika Terancam tidak Dapat Cerutu

initasik.com, historia | Orang-orang Eropa dan Amerika terancam tidak bisa menghisap cerutu, lantaran para buruh di perkebunan tembakau Sumatera Timur mogok kerja. Indonesia pun bakal kebagian ruginya. Devisa sekian juta rupiah tidak masuk.

Pemerintah sigap menangkap sinyalemen negatif itu. Menteri Perburuhan, Wilopo, langsung terbang ke Sumatera Timur. Sekitar sepuluh hari Wilopo berada di sana. Ia dan rombongan menginap di Hotel des Indes. Namun, para pembesar itu tidak mendapatkan pelayanan sebagaimana biasanya. Semua karyawan hotel pun mogok kerja.

Selama di sana, Wilopo bernegosiasi. Ia meminta para buruh menghentikan aksinya, dan berjanji akan memenuhi tuntutan mereka terkait perbaikan nasib. Pasalnya, Sumatera Timur menjadi salah satu daerah pemasok tembakau.

Bukan hanya di Sumatera Timur, beberapa daerah di Indonesia menggelar aksi serupa. Madjalah Merdeka, edisi 29 April 1950, melaporkan, para buruh di Semarang juga mogok kerja. Mereka menuntut kenaikan gaji, hak mendapat kesehatan, dan keperluan lainnya. Tuntutan mereka dikabulkan.

Di pelabuhan Tanjung Priok pun sama. Para pekerja kapal mogok menuntut kesejahteraan. Aksi ini lebih menarik, karena melibatkan empat kementerian, yaitu Kementerian Keuangan, Kementerian Pertahanan, Kementerian Perhubungan Tenaga Kerja dan Pekerjaan Umum, dan Kementerian Perburuhan.

“Masih banyak yang harus dikerjakan oleh kita untuk kepentingan-kepentingan kelas buruh. Kita kuat karena sistem kapitalisme dan imperialisme sendiri menyebabkan kita kuat dengan timbulnya serikat-serikat buruh,” kata salah seorang pimpinan Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI). [Jay]

Keterangan foto: Buruh pabrik rokok | Dok. Madjalah Merdeka

Komentari

komentar