Sosok

Cara Cecep Susilawan Mengubah SMPN 11 Tasik Jadi Sekolah Nyaman

initasik.com, sosok | Saat melontarkan gagasannya untuk menyulap suasana sekolah yang asalnya tidak nyaman menjadi nyaman, Cecep Susilawan kurang mendapat dukungan dari rekan-rekannya.

Banyak yang menyangsikan ide dari kepala SMPN 11 Kota Tasikmalaya itu. Mereka ragu. Apalagi ia akan membuat sekolah yang berbudaya lingkungan. Cecep terus maju. Ia meyakinkan rekan-rekannya kalau idenya bisa dilaksanakan, dan pasti berhasil.

Sebelum kedatangan dirinya, SMPN 11 Kota Tasikmalaya terlihat kumuh. Coretan dinding di mana-mana. Sampah berserakan. Ruangan kelas dan ruang guru pun tidak beraturan. Saat Cecep ditugaskan di sekolah itu, muncullah ide untuk mengubah segalanya.

Di 2015, ia mulai melakukan perubahan. Berbenah. “Semua orang bertanya ketika akan memulai ini semua. Penuh dengan risikonya, ini mau dibagaimanakan. Teman-teman di sini semuanya berpikir kalau ide itu dijalankan, hasilnya tidak akan awet. Akan rusak dalam satu minggu juga,” paparnya.

Perjalanan panjang dan bukan tanpa hambatan. Sarat perjuangan. Tapi, dengan penuh keyakinan, penuh kerja keras, serta berani memulai dari diri sendiri, itu semua akan terasa ringan.

“Jujur dan penuh keyakinan, saya jalan terus. Pada tahun 2015 tidak ada yang membayangkan bahwa SMP 11 di tahun 2017 akan menjadi sekolah adiwiyata, sekokah sehat. Tidak ada yang menduga itu, apalagi juara di tingkat provinsi,” tuturnya.

Pria kelahiran Ciamis, 1967, itu, mengungkapkan, adanya kerja keras, mampu memberikan teladan, dan menyiapkan mental untuk diacuhkan orang, menjadi modal awal untuk melakukan perubahan.

Namun, perubahan itu bukan hanya dilakukan ketika di hadapan orang saja, melainkan kepribadian seperti itu harus dilakukan di rumah. Ditanamkan pada keluarga. Artinya rapih dulu di rumah masing-masing, bersih dulu di rumah masing-masing, hijau dulu dengan tanaman di rumah masing-masing, nanti akan berimbas ke sekolah dan akhirnya  berimbas pula pada lingkungan masyarakat.

“Kesungguhan itu ketika pekerjaan di sekolah diawali dulu dari rumah. Saya sampaikan kepada rekan-rekan dan semua peserta didik pun juga sama. Jadi kesejatian perjuangan itu ketika diawali dulu dari rumahnya masing-masing. Siap untuk hidup bersih, siap untuk punya lingkungan yang hijau, siap untuk ketataan yang rapih di rumahnya, baru akan berimbas ke sekolah dan lingkungan masyarakat,” paparnya.

Ia mengingatkan, apapun inovasi yang dilakukan untuk membangun lingkungan lebih baik, hal utama yang harus dipegang adalah semuanya itu memerlukan proses. Tidak instan. “Belum tentu hari ini saya kerja, seminggu kemudian akan terasa hasilnya. Tidak seperti makan cabe,” tandasnya. [Syaepul]