Etalase

Cari Angkringan Tak Perlu Jauh Ke Yogyakarta, di Tasik Juga Ada

initasik.com, etalase | Sore yang manis. Trotoar memanjang dipenuhi kaula muda yang duduk bersila, menunggu waktu berbuka puasa. Sembari bercengkrama, menikmati lalu lalang kendaraan di jalan K.H Zainal Musthafa, Kota Tasikmalaya.

Di seberang jalan, mal angkuh berdiri. Bising mesin menyulut resah. Penjaga angkringan tetap menebar senyum. Tak lama kemudian azan Magrib berkumandang. “Tempe bacem dibakar, sama bakwan juga dibakar,” seseorang memesan.

“Siap, A,” timpal penjaga angkringan, Koko (20).

Angkringan yang dibangun di atas trotoar tersebut sudah berdiri sejak 2008. Bersama ketiga temannya, Koko merantau ke Kota Tasikmalaya untuk mencari peluang bisnis. Dirintislah angkringan. Sengaja itu yang dipilih untuk mengobati kerinduan orang-orang pada suasana angkringan. Di kota-kota di Jawa Tengah dan Yogyakarta, angkringan adalah tempat makan sederhana yang tidak menguras isi kantong.

Koko mengaku sangat senang dengan para pelanggan. Saking lamanya tinggal di kota Tasikmalaya dan interaksi yang terus-menerus, membuatnya lancar berbahasa Sunda. Terkadang ada juga yang mengajaknya berbahasa Jawa, dan ia pun melayaninya dengan ramah.  Ia mulai mempelajari budaya orang Tasik. Keramahannya sama dengan di Yogya.

Makanan yang disajikan di angkringan ini sama seperti angkringan pada umumnya. Ada tempe, tahu bacem, ayam, sate usus, ati ampela, dan bakwan. Cara menghangatkannya pun sama, yaitu dengan dibakar di atas tungku. Namun, nasi kucing tidak tersedia di sini. “A, sabaraheun sadayana?”

“Janten Rp 15.000,” jawabKoko dengan bahasa Sunda fasih. [Egi]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?