Dok. Pribadi
Komunitas

Caves Society; Kampanyekan Pentingnya Menjaga Kawasan Karst dan Gua

initasik.com, komunitas | Luas karst di Pulau Jawa hanya 5.500 kilometer persegi atau empat persen dari total daratan. Di Tasikmalaya, luas karst sekitar 2.000 kilometer persegi yang terbentang dari daerah Kawalu sampai laut selatan. Adapun jumlah gua yang terdata sekitar 500-an, dan yang sudah dipetakan baru sepuluh persen.

Tak banyak yang tahu, jika terjadi perusakan kawasan karst dan gua akan memicu peningkatan intensitas bencana banjir dan longsor. Kondisi itu juga bisa memicu berbagai persoalan sosial. Untuk itu, Caves Society (Masyarakat Gua)  berencana mengampanyekan tentang pentingnya kawasan karst dan gua.

Encep Manarul H, ketua Caves Society, mengatakan, hal itu penting dilakukan sebagai upaya untuk meminimalisir krisis ekologi di daerah Tasikmalaya, terlebih setelah banyaknya pembangunan yang memicu lahan kritis.

“Kawasan karst itu bentuk bentang alam khas yang terjadi akibat proses pelarutan pada suatu kawasan batuan karbonat atau batuan mudah larut. Pada umumnya disebut fenomena batu gamping. Ciri kawasan karst itu adanya gua. Gua ini mempunyai berbagai nilai dan potensi yang patut kita lindungi. Itu bisa dipandang dari berbagai sudut pandang,” papar mahasiswa FKIP Unsil itu.

Menurutnya, beragam cara bisa dilakukan untuk melindungi karst dan gua. Misalnya memanfaatkan mata airnya, seperti yang dilakukan di Desa Parung, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Tasikmalaya dengan membuat bak penampungan air, sehingga mampu mengairi 60 kepala keluarga.

“Dengan adanya bak itu secara tidak langsung mengedukasi masyarakat terkait manfaat mata air karst untuk kebutuhan sehari-hari. Nantinya, masyarakat sendiri yang akan melindungi kawasan karst, karena manfaatnya bisa dirasakan langsung,” ujarnya.

Selain itu, bisa dengan melakukan pemetaan dan pendataan gua. Hal tersebut dilakukan untuk memberikan batas kehati-hatian bilamana kelak terjadi perusakan terhadapan kawasan karst dan gua. [Milah]

Komentari

komentar