Peristiwa

Cenderung Membosankan, BEM Dituntut Inovatif

Kabupaten Tasik | Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sejatinya menjadi wadah pendewasaan diri dan penajaman intelektualitas. BEM bukan sekumpulan mahasiswa yang doyan unjuk rasa, namun ada yang lebih dari itu: pusat bertukar ide dan penampung aspirasi untuk kemajuan bersama.

Dosen Institut Agama Islam Cipasung (IAIC), Kabupaten Tasikmalaya, mengatakan, keberadaan BEM sangat diperlukan sebagai wadah bagi mahasiswa untuk mematangkan diri dalam berorganisasi dan mengasah kemampuan berdialektika. Namun ia menyayangkan, BEM di manapun cenderung membosankan. Program-programnya stagnan. Diperlukan inovasi-inovasi menyegarkan agar peranan BEM bisa lebih bermanfaat bagi mahasiswa.

“BEM di perguruan tinggi atau swasta cenderung membosankan. Aktualisasi kerjanya itu-itu saja. Itulah yang membuat sejumlah mahasiswa jadi males masuk BEM. Diperlukan inovasi yang bisa menggerakkan dan menyemangati mahasiswa untuk masuk dalam organisasi BEM,” tuturnya kepada initasik.com, Senin, 26 Oktober 2015.

Presiden Mahasiswa Institut Agama Islam Cipasung, Budi Hartono, mengakui, saat ini hanya sebagian kecil mahasiswa yang peduli pada keberadaan BEM. ”Hanya sepuluh persen mahasiswa yang masih peduli dengan adanya BEM. Mereka lebih mementingkan kehidupan individunya, dan tidak lagi peduli dengan peranan kampus sebagai pencetak kaum intelektual,” ungkapnya. initasik.com|dzm

Komentari

komentar