Inspirasi

Cerita “Coba Cake” Tolak Tawaran Pinjaman dari Bank

intasik.com, inspirasi | Kemunculan Choco Banana (Coba) Cake pada 2013 sempat mencuri perhatian para pecinta kuliner di Kota Tasikmalaya dan sekitarnya. Saat produk itu booming, omzet dalam sehari mencapai Rp 10 juta.

Pemilik usaha, Dewi Wulandari, menceritakan, sebelum Coba Cake dibuat, pada awalnya, ia ingin membuka sebuah usaha camilan khas Tasikmalaya yang unik dan kekinian, namun tetap menggunakan bahan-bahan yang mudah didapat di Tasikmalaya.

Pada satu waktu ia melihat kue yang populer di Jepang. Namanya Tokyo Banana. Dewi terinspirasi. Dibuatlah Coba Cake. Kue berbahan dasar pisang. “Kalau bolu pisang dengan bentuk kotak dan dilapisi coklat, itu sudah biasa,” ujarnya saat ditemui di outletnya, Jumat, 20 April 2018.

Untuk itu memutuskan membuat bolu rasa pisang dengan bentuk yang sangat mirip dengan aslinya. Setelah inovasi kue bolu itu berhasil dibuat, Dewi belum berani langsung memasarkan produknya itu. Hanya dipromosikan kepada kerabat. Setelah responsnya bagus, Coba Cake dipasarkan.

Dewi mengaku, pada tahun pertama dan kedua sejak diluncurkan, Coba Cake begitu terkenal dan jadi kudapan yang viral. Dalam sehari, omzetnya sampai Rp 10 juta. Bahkan, ia kedatangan investor, termasuk perbankan yang menawarkan pinjaman modal. Namun, ia menolaknya. Setelah berembug dengan suami, Rizal Abdul Aziz, Dewi ingin membesarkan usahanya itu dengan sendiri.

Pilihannya tidak salah. Kendati tanpa pinjaman bank, Coba Cake berkembang. Punya outlet sendiri. Dalam sehari, Dewi mengaku bisa menghabiskan pisang Ambon untuk bahan baku sebanyak 5 sampai 10 kilogram. Untuk urusan harga jual, mulai dari Rp 43 ribu sampai Rp 175 ribu.

“Tergantung paketnya, kalau paket baby size, itu isinya ada 14 banana cake. Kalau yang paket hantaran, isinya sampai 30. Di dalamnya bisa dicampur. Tapi khusus untuk Banana Brownis, satu dus harganya Rp 48 ribu,” papar Dewi. [Eri]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?