Jay | initasik.com
Humaniora

Cerita Dadang “Mentari Hati” Saat Antarkan Pasien-pasien yang Telah Sembuh

initasik.com, humaniora | Kiprah Dadang Heryadi dalam mengelola Yayasan Mentari Hati Tasikmalaya sudah dimulai sejak 2007. Suka duka telah dirasakan. Ada satu hal yang selalu membekas di hatinya, yaitu saat mengantarkan pulang pasien-pasien yang telah sembuh.

Mereka yang sebelumnya terlunta-lunta di jalan, berpisah sekian tahun dengan keluarganya, kini bisa pulang kembali. Berkumpul lagi dengan orangtua dan saudara-saudaranya.

“Ditahan-tahan juga tidak bisa. Pasti saya menangis,” aku Dadang saat berbincang dengan initasik.com, di Yayasan Mentari Hati Tasikmalaya, Cilembang, Kota Tasikmalaya.

Salah satu momen yang selalu diingatnya adalah saat memulangkan pasiennya asal Kendal, Jawa Tengah. Pasien yang diberi nama Nisa,  karena memang orang gila tidak tahu nama, itu sudah berpisah dengan keluarganya selama 12 tahun. Orangtuanya sudah mencari dia ke mana-mana, bahkan sampai Kalimantan.

“Saya menemukan dia di Sukabumi. Waktu itu saya pulang diundang bupati Sukabumi, di jalan dapat dia. Dibawa ke sini. Direhabilitasi. Setelah sembuh diantarkan pulang. Tahu alamatnya di mana juga dari dia. Itu rumahnya 30 kilometer dari pusat kota Kendal,” tuturnya.

Belum juga sampai ke rumahnya, orang-orang di kampung itu dibuat kaget. Mereka tidak menyangka kalau “Nisa” masih hidup. Puluhan tahun dicari, ternyata pulang sendiri. Sudah sadar pula. Memang, waktu meninggalkan rumahnya, ia dalam keadaan hilang ingatan.

Sejak membuka yayasan, Dadang mengaku sudah memulangkan ratusan orang yang sebelumnya hidup di jalan lantaran gila. Paling jauh ke Kupang, Nusa Tenggara timur. Di jalan sampai sepuluh hari. Perjalanan darat.

“Selalu sendiri, berdua dengan pasien. Sengaja untuk mengirit pengeluaran,” ujarnya sembari menyebutkan, biaya pengantaran itu dirogoh dari saku sendiri. Kalau ke Kupang dapat surat jalan dari instansi-instansi terkait, sehingga bebas ongkos.

Setelah dipulangkan ke rumahnya, beberapa pasien yang telah sembuh memilih untuk menjadi relawan di Yayasan Mentari Hati. Ada enam orang yang begitu. Mereka turut merawat orang-orang yang bernasib sama. Membantu sesuai kemampuan.

Meski kebanyakan haru, namun ada juga pengalaman jengkel Dadang saat memulangkan pasiennya yang diberi nama Jo. Kejadiannya Ramadan tahun kemarin. Tiba di Bantul, Yogyakarta, tempat asal Jo, jelang sahur. Masyarakat sedang keliling kampung membangunkan warga untuk sahur.

Di luar dugaan, Dadang disuruh membawa Jo kembali. Ia tidak diterima masyarakat. “Ternyata dulu dia sering membuat kerusakan. Rumah orang dilempari batu. Karpet masjid dikeluarkan. Tapi saya keukeuh minta diketemukan dulu dengan orangtuanya. Alhamdulillah diizinkan,” terang Dadang.

Dari keluarganya, Dadang tahu kenapa Jo ditolak warga. Saking sering membuat kesal masyarakat, kepala dusun pernah menyuruh Ibu Jo untuk meracun anaknya. Ia pun tahu kalau nama lahir Jo adalah Nurhadi. Jo hanyalah nama yang diberikan Dadang, karena semua orang gila yang dirawat di tempatnya tidak ingat nama aslinya. [Jay]