Informasi

Cerita Endang Jadi Penjaga Tempat Membakar Jenazah

initasik.com, informasi | Krematorium atau tempat membakar jenazah di Kota Tasikmalaya sudah ada sejak 2007. Tempatnya di Cisapi, Gunungggede, Kawalu. Sejak diresmikan, tempat yang berdiri di atas lahan seluas enam hektar itu dijaga Endang, warga setempat.

“Ada dua mesin kremasi di sini. Kami menerima kremasi setiap hari, kecuali hari Jumat tidak bisa pagi. Paling sore,” ujar Endang saat ditemui initasik.com, dalam satu kesempatan.

Menurutnya, tak sedikit nonmuslim yang lebih memilih kremasi ketimbang pemakaman, karena alasan biaya. Kalau dikremasi biayanya Rp 2,5 juta, sementara pemakaman sekitar Rp 2 juta, tapi belum termasuk biaya lainnya. Sedangkan kremasi biayanya sekaligus. Terima beres.

Untuk proses kremasi, Endang menjelaskan, jenazah dimasukkan ke dalam mesin pembakaran yang membutuhkan 120 liter solar. Dibakar selama lebih kurang 2 jam dengan suhu sekitar 900° hingga menyisakan abu. “Dibakar sama petinya. Nanti yang diambil abu dari tulang besar seperti paha, punggung, kepala. Kalau tulang jari mah sudah habis dibakar api,” terangnya.

Bagaimana cara membedakan abu jenazah dengan abu peti kayu? Endang sudah paham. Warnanya beda. Kalau abu peti warnanya hitam, sedangkan abu jenazah berwarna putih. Satu jenazah menjadi sekitar 1,5 kilogram abu.

Endang mengaku sudah menjadi penjaga krematorium sejak 2007. Bukan digaji bulanan, tapi dibayar tiap kali ada pembakaran. Satu jenazah, ia mendapat upah Rp 50 ribu. Untuk itu, ia tetap melakoni pekerjaan lainnya dengan menjadi petani. [Eri/Morsa]