Inspirasi

Cerita Mang Okih Usaha Menyewakan Buku; Saat Roman Masih Jadi Teman di Waktu Luang

Kota Tasik | Bagi sebagian warga Tasikmalaya, nama Mang Okih pasti tidak asing. Pria berperawakan kecil nan murah senyum ini punya kenalan banyak, lantaran pernah usaha menyewakan buku bacaan. Itu dilakoninya selama 30 tahun.
Pelanggannya banyak. Di mana-mana. “Ngider mah dugi ka Purbaratu. Unggal poe ngurilingan Tasik make sepedah,” ujar warga Leuwimalang, Bungursari, Kota Tasikmalaya, itu saat ngobrol dengan initasik.com, beberapa waktu lalu.

Sejak 1969 sampai awal 2000, pemilik nama lengkap Okih Pakih yang kini berusia 67 tahun itu bisa jadi satu-satunya urang Tasik yang menyewakan buku dengan cara person to person. Dari pintu ke pintu.

Menggunakan sepeda, tiap hari ia keliling kota menawarkan berbagai macam buku bacaan untuk disewakan. Jenisnya macam-macam, mulai tentang persilatan hingga roman. Jauh sebelum konsep DO alias delivery order ramai dipakai para pegiat kuliner, Mang Okih sudah menjalankannya. Ia datangi satu per satu pelanggan.

Pemetaannya pun jelas. Misalnya hari ini jalur Pancasila, besok lain lagi. Selang beberapa hari, ia datang lagi ke Pancasila. Ambil buku yang disewa, tawarkan judul baru. Satu buku ia sewakan Rp 100. Ya, seratus perak.

Jangan salah. Waktu itu, taun 70-an hingga 80-an, ia beli buku harganya cuma 70 perak. Untungnya jelas. Satu buku 30 perak. Dan itu tidak dijual, tapi disewakan. Untuk dapat koleksi buku baru, tiap bulan ia belanja sendiri ke Bandung.

Baheula  mah gampang ngala duit teh. Sapoe bisa menang Rp 9.000. Harita resiko cukup ku Rp 5.000. Ayeuna mah jigana hungkul. Dunya teh beuki rame. Ceuyah. Jalmana laloga gaya, tapi teu paruguh,” tutur ayah delapan anak itu membanding masa-masa yang dilaluinya.

Menjelang era 2000-an, usahanya mulai redup. Kemajuan teknologi tak bisa dibendung. Hiburan mudah didapat. Jika dulu untuk mengisi waktu luang dihabiskan dengan membaca roman, misalnya, sekarang lain lagi.

Tangan sudah jarang memegang buku bacaan. Ada telepon seluler yang menggantikan. Tiap ada waktu senggang, ambil ponsel, lalu berselancar di dunia maya. Mau hiburan seperti apa? Media sosial meruyak. Yang lainnya juga banyak.

Mang Okih tak kuasa melawan kemajuan teknologi. Ditambah harga buku yang melonjak. Satu buku belinya Rp 3.000, sedangkan ongkos sewa Rp 1.000. Kondisinya berbalik. Okih pun berhenti menyewakan buku bacaan. Ia beralih haluan. Masih menggunakan sepeda, ia jualan cilok. Namun, belakangan itu tidak dijalaninya setiap hari.

Kendati sudah tidak menyewakan buku, hubungan dengan beberapa pelanggannya masih berjalan baik. Malah jika berpapasan di jalan, tak sedikit di antara mereka yang suka memberi uang kepada Mang Okih. “Milik nu teu disangka tea,” imbuhnya. initasik.com|shan

Komentari

komentar