Peristiwa

Cerita Ringkih di Balik BLUD RSUD

Kota Tasik | Belum banyak orang tahu atas status rumah sakit umum daerah (RSUD) Kota Tasikmalaya saat ini. Masyarakat tahunya rumah sakit itu adalah berplat merah. Hanya itu. Padahal, sejak 2008 silam, RSUD Kota Tasikmalaya telah berubah status. Bukan lagi sebagai satuan perangkat biasa, tapi sudah menjadi badan layanan umum daerah (BLUD) dengan status penuh.

Artinya, dengan statusnya itu, RSUD Kota Tasikmalaya diberikan fleksibilitas dalam berbagai hal, misalnya mengelola pendapatan. Jika satuan kerja perangkat daerah (SKPD) biasa diharuskan langsung menyetor pendapatan ke rekening kas daerah, maka BLUD diperbolehkan memasukkannya ke rekening rumah sakit.

Dengan fleksibilitas seperti itu, manajemen diberi kewenangan untuk melakukan pengadaan alat kesehatan dan obat-obatan yang bersumber dari penghasilan rumah sakit, sehingga dapat menjamin keberlangsungan pelayanan.

Mestinya, dengan dijadikan badan layanan umum, RSUD Kota Tasikmalaya bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat tanpa mengutamakan keuntungan. Dalam melakukan kegiatannya pun harus didasarkan pada prinsip efisiensi serta produktivitas. Intinya, instansi berstatus BLU mempunyai otonomi luas dalam melaksanakan prinsip-prinsip manajemen korporasi yang efektif dan akuntabel.

Seorang mantan petinggi RSUD yang enggan ditulis namanya, meyakinkan, saat ini RSUD Kota Tasikmalaya belum kokoh secara manajerial dan pelayanan. Kenyataanya masih jauh dari semangat dibentuknya BLUD. Padahal, tujuan dibentuknya BLUD itu adalah untuk meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat, memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Ia mencontohkan, saat ini pihaknya masih mendengar keluhan-keluhan pemegang kartu Jamkesmas/Jamkeskinda. “Salah besar jika peserta jamkesmas dipandang sebelah mata. Tidak ada alasan untuk membeda-bedakan pasien jamkesmas atau bukan,” tandasnya.

Menurutnya, hingga saat ini manajemen RSUD Kota Tasikmalaya belum trengginas dalam memberikan pelayanan dan menganalisa masalah. Tingginya angka kunjungan pasien, kata dia, mestinya diidentifikasi lebih dalam. “Ternyata, itu didominasi oleh kelas tiga. Itu harus diidentifikasi lagi, apakah banyaknya pengunjung kelas tiga itu karena merasa puas dengan layanan rumah sakit atau karena bisa pakai jamkesmas?” ujarnya menegaskan. initasik|ashani 

Komentari

komentar