Peserta Cibutabasi foto bersama usai menggelar acara
Edukasi

Cibutabasi; Wadah Diskusi Lintas Organisasi, dari NU Hingga Persis

initasik.com, edukasi | Mempersaudarakan diri dengan mereka yang berbeda pemikiran biasanya terbilang sulit. Masing-masing punya ego. Bersikeras mempertahankan kebenaran versinya. Namun, hal itu tidak terjadi di forum Cibutabasi alias cinta buku cinta baca dan diskusi.

Diskusi dalam forum itu berlangsung cair dan mengalir. Dari diskusi satu arah, berangsur menjadi dua arah, bahkan lebih. Mereka yang gabung dari berbagai kepentingan dan latar belakang. Semuanya bisa membaur dan melebur.

Asep Majid Tamam, pendiri Cibutabasi, mengatakan, mereka pengaji di Cibutabasi berangkat dari berbagai ormas, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis dan lain-lain. Juga dari organisasi kemahasiswaan, yaitu HMI, PMII, IMM, KAMMI, dan FMI.

Cibutabasi ada sebagai tempat analisa bagi anggotanya. Menjadi media untuk belajar, mengasah dan memperkaya analisa. Mereka bebas menganalisa sebagai bagian dari Iqra. Wacana yang diusungpun bermacam-macam, mulai dari agama, pendidikan, kebangsaan, keumatan, sosial, budaya dan lain-lain,

“Mempersatukan mereka dalam satu tempat, mempertemukannya, tidak untuk menyamakan persepsi, toh mereka berbeda dalam berbagai hal. Diharapkan, Cibutabasi bisa menjadi tempat bagi mereka untuk betah bersama-sama dengan mereka yang memiliki pemikiran berbeda. Saya melihat, kegaduhan sosial saat ini karena mereka tidak bertemu,” tutur Asep.

Cibutabasi, lanjut dia, diawali dari grup diskusi di rumah, lalu menjadi grup WA, akhirnya menjadi wadah untuk menyalurkan ide dan gagasan terkait berbagai hal yang berhubungan dengan keindonesiaan dan keagamaan.

“Kegiatan forum ini gabungan antara dunia berpikir dan analisa dengan aktivitas menulis. Sangat rugi jika hasil pemikiran menguap percuma. Maka, dalam waktu secepatnya kita akan membangun gerakan literasi di antara anggota Cibutabasi. Ini adalah konsekuensi positif. Mengikat hasil analisa dan pemikiran dengan karya tulisan adalah ikhtiar untuk memberi sedikit andil bagi mereka di luar sana,” ungkapnya.

Ilham Syawaludin, anggota Cibutabasi, menambahkan, keberadaan Cibutabasi merupakan angin segar. Pasalnya, budaya diskusi, membaca dan menulis di kalangan mahasiswa mulai krisis. Terlebih forum itu berbasis nilai, subtansi, bukan sekadar tempat berwacana yang tidak jelas. Mereka yang ikut bisa menjadi bahan untuk pengembangan diri, mengasah dialektika dan gagasan.

“Jelas sekali manfaatnya, ini juga bisa dikata untuk membudayakan yang sudah ada sejak dulu, menghidupkan kesadaran untuk membangkitkan diskusi, apalagi atmosfer budaya di mahasiswa, tertutama yang berkaitan dengan dunia membaca dan menulis, sangat minim,” papar mahasiswa IAIC itu. [Syaepul]