Peristiwa

Cipratan Rupiah Pentas Lumba-lumba Sampai ke Sekolah

Kota Tasik | Pentas lumba-lumba dan aneka satwa yang digelar di kompleks Dadaha, Kota Tasikmalaya, 14 Oktober s.d. 15 November 2015, meninggalkan cerita sumbang. Dikabarkan, untuk menarik pengunjung, pengelola wahana bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan sekolah-sekolah yang ada di kabupaten dan Kota Tasikmalaya.

Manajer PT Word Secury Indonesia, Mulyono, membeberkan soal kerja sama itu. Ia menyebutkan, untuk anak-anak sekolah pihaknya memberikan tarif khusus sebesar Rp 15.000. Padahal tarif umumnya Rp 35.000.

Dari Rp 15.000 itu, kata Mulyono, pengelola wahana hanya menerima Rp 10.000. Selebihnya dibagi-bagi: Rp 1.000 untuk marketing freelance, Rp 2.000 untuk kepala sekolah, dan Rp 2.000 lagi untuk lembaga yang memayungi sekolah, seperti Himpaudi dan IGRA, termasuk SD untuk Dinas Pendidikan.

“Jadi, dari yang Rp 15.000 itu langsung dipotong oleh sekolah Rp 2000. Kalau yang Rp 2.000 dibagi-bagi, ke Dinas Pendidikan, Himpaudi, dan IGRA,” ungkap Mulyono saat dikonfirmasi via telepon, Selasa, 17 November 2015.

Ia menyebutkan, dalam sehari ada lebih dari seribu siswa yang menonton pertunjukan lumba-lumba tersebut. “Ada juga sekolah yang mematok karcis umum Rp 35.000, tapi bayar ke kami tetap Rp 10.000. Katanya buat ongkos mobil,” ujar Mulyono tanpa mau menyebut sekolah yang mana.

Dikonfirmasi via pesan singkat, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, Budiaman, membenarkan soal kerja sama tersebut. Tapi ia mengaku hanya memberikan rekomendasi, tidak dalam bentuk kerja sama antara Dinas Pendidikan dengan pengelola wahana.

Disinggung soal bagian masing-masing Rp 2.000 untuk sekolah dan Dinas Pendidikan, ia menjawab, selama itu tidak merugikan negara dan kepentingan sekolah, maka tidak ada yang melarang. “Sabaraha atuh nilaina per sakola, mani sagala dimasalahkeun,” ketusnya. initasik.com|syamil/shan

Komentari

komentar