Inspirasi

Dari Tasikmalaya, Dani Jadi Pengusaha di Jepang

Kabupaten | Nama aslinya Dani Hamdani. Namun, setelah menikah dengan orang Jepang, ia jadi punya dua nama lain; Dany Yuan atau Nagata Dani. Yang terakhir itu diambil dari marga istrinya, warga Jepang. Apa yang hebat dari seorang Dani? Pertama, kegigihannya.

Namanya dikenal sebagai seorang distributor utama warung halal food di negeri Sakura itu. Ia jualan aneka makanan halal khas Indonesia. Omzet per bulannya mencapai Rp 300 juta, bahkan lebih. “Saya di sini berusaha menciptakan lapangan kerja,” ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Jangan lihat keberhasilannya sekarang. Telisik juga bagaimana ia merintis usaha di negeri orang. Ia tidak ujug-ujug sukses. Dengan suara yang terdengar penuh semangat, suami dari Nagata Mika (32) dan ayah Nagata Yuan (5) itu bercerita, bisnisnya dimulai dengan modal minim.

“Saya hanya bermodalkan kepercayaan dan semangat pantang menyerah untuk mengubah nasib,” tandasnya.

Kehebatan yang kedua adalah dia urang Tasik. Ya. Dani berasal dari Kampung Bojongsari 02/11, Desa Manggungjaya, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya. Sebagai orang kampung yang bisa menjadi pengusaha sukses di Jepang, tentu sebuah kehebatan yang patut diacungi jempol.

Dani menceritakan, tahun 1998 ia nekat terbang ke Jepang untuk mengubah nasib. Dia lantas bekerja di sebuah restoran. “Perjalanan sebagai pekerja di sini (Jepang, Red) telah mengantarkan saya pada jodoh orang Jepang. Saya menikah tahun 2006,” sebutnya.

Baru setahun usia pernikahannya, ia di-PHK dari tempatnya bekerja. Krisis ekonomi Amerika berimbas ke Jepang. “Krisis moneter itu membuat saya pulang ke kampung istri, di Propinsi Jivu, Nagoya. Pada tahun itu banyak orang indonesia dipulangkan ke tanah air. Saya hanya tinggal di kampung halaman istri, dan menganggur selama dua bulan,” kenangnya.

Saat menganggur itulah, dia bertemu dengan distributor makanan olahan asal Indonesia yang memasarkan produknya di Jepang. Ia pun ikut bekerja. Namun itu hanya bertahan 2,5 tahun. Dani punya rencana lain. Otak bisnisnya jalan. Ia nekat membuka distributor sendiri dengan membuka “Warung Kita”. Yang dijualnya semua makanan Indonesia, seperti mi instan, daging halal, kerupuk, kecap, saus, tempe, kurma, petai, jengkol, sayuran dan aneka rempah-rempah.

“Merintis usaha ini tidaklah mudah. Saya harus tahan dengan badai salju selama sehari semalam, tidur di mana saja, bahkan sering terjebak badai selama melakukan penjualan direct selling,” ujarnya.

Bukan Dani namanya jika mudah menyerah. Ia berjuang keras, sehingga berhasil seperti sekarang. Bahkan, ia tidak sukses sendirian. Ia telah membuka lapangan kerja bagi warga Indonesia yang berada di Jepang dan di kampung halamannya di Indonesia.

Itulah kehebatannya yang ketiga. Usahanya dengan sistem online mampu menghidupkan orang lain. “Ada admin di Indonesia. Dia melakukan marketing dari Bandung dan Tasik. Ada juga penunggu warnet. Jika ada order, dilempar ke saya, kita bisa berbagi rezeki,” katanya.

Kini, Dani terbilang sukses. Pria yang kini tinggal di Japan Gifuken Gifushi Nishinakajima 4-8-12 Haimusanbiura 101, kode pos 502-0916, itu juga aktif dalam berbagai kegiatan komunitas warga tanah air. Misalnya dia didaulat sebagai sesepuh Viking Baraya Jepang. Selain itu, ia pun bergerak di kepengurusan IPTIJ training. IPTIJ adalah Ikatan Pemuda Training Indonesia-Japan. Kegiatannya menggelar pengajian dan seminar.

“Kami sering mengundang tokoh Indonesia, seperti Ustadz Yusuf Manshur, Aa Gym, dan sejumlah pengusaha sukses seperti Bob Sadino. Terbaru, kita undang untuk berbagi inspirasi yaitu owner ayam bakar Mas Mono,” bebernya.

Disinggung soal kondisi Jepang, Dani menuturkan, karakter orang Jepang itu sangat disiplin, ramah, taat terhadap peraturan, dan pekerja keras. Mereka sopan santun di jalan raya, tertib berlalu lintas, dan selalu bersih dari sampah.

Salah satu mahasiswa Indonesia yang kuliah di Hotsuma International School Japan, Gifar Solahudin, mengungkapkan kebahagiannya saat bertemu dan berbelanja via online halal food.

“Saya merasa terharu, bisa melepas kangen ke tanah air dengan membeli halal food dari kang Dani,” tulisnya dalam surat elektronik. Bukan hanya menjadi konsumen, Gifar mengakui bahwa Dani memberikan bimbingan untuk menjadi pengusaha. “Saya ditawari jadi distributor di sini. Jadi belajar sambil dapat penghasilan,” imbuhnya. initasik.com|fuad hisyamudin

Komentari

komentar