Istimewa
Sosok

Demi Hamzah Rahadian dan Tulisan dalam Amplop Berusia 15 Tahun

initasik.com, sosok | Saat liburan sekolah, Demi Hamzah Rahadian diminta pamannya untuk menuliskan cita-citanya dalam secarik kertas. Namun, kertas yang sudah dimasukkan ke dalam amplop itu hanya boleh dibuka ketika dirinya dewasa dan sudah punya pekerjaan. Waktu itu ia masih duduk di bangku SMP.

Bertahun-tahun amplop itu tidak pernah dibuka. Demi asyik dengan dunia remajanya dan nyaris lupa dengan tulisan dalam kertas itu. Setelah dewasa dan bekerja, ia ingat amplop itu dan membukanya.

“Setelah 15 tahun sejak tulisan itu dibuat dan disimpan dalam amplop, kemudian saya buka kembali, isinya membuat saya sangat terkejut, karena apa yang sedang saya jalankan saat ini sama persis dengan apa yang saya tulis pada saat masa kecil dulu. Sama sekali saya tidak menyangkanya,” tutur Demi.

Menurutnya, cita-cita yang dituliskannya tempo dulu itu adalah ingin menjadi seorang pengusaha dan politisi. Ternyata benar. Kini, ia tercatat sebagai anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya dan sedang menjalankan usaha bersama keluarga.

Ia bersyukur dengan jalan takdirnya sekarang. Diakui, semua itu tak lepas dari keluarga besarnya yang mewariskan terhadap organisasi dan politik. Kakeknya adalah aktivis dan petinggi Nahdlatul Ulama di Kabupaten Cianjur. Sedangkan ayahnya aktivis OKP PMII, GP-Anshor, dan KNPI serta merupakan salah seorang pendiri PKB di Cianjur.

Dari darah ibunya juga sama. Neneknya merupakan aktivis Masyumi dan sebagian besar keluarga ibunya  menjadi pengurus di Muhammadiyah, hingga salah seorang pamannya menjadi Ketua PAN pertama di Cianjur.

Demi kecil adalah bocah yang besar di wilayah perkampungan di Kecamatan Cibalong, Kabupaten Tasikmalaya. Ketertarikannya pada dunia organisasi sudah muncul sejak duduk di bangku SD. Ia aktif di Pramuka. Jiwa kepemimpinannya sudah tampak.

Masuk SMP, Demi ditunjuk menjadi komandan Polisi Keamanan Sekolah (PKS) oleh gurunya. Alasannya menarik. Ia diminta jadi komandan, karena sering terlibat perkelahian dan menjadi biang keributan di sekolahnya.

Namun saat duduk dibangku SMA aktivitas organisasinya nyaris tidak ada, karena harus berkonsentrasi terhadap pelajaran agar bisa mendapatkan nilai yang baik saat kelulusannya nanti.

Kegandrungan berorganisasinya muncul kembali saat kuliah di Fakultas Hukum  Universitas Islam Bandung. Ia aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Hingga antara 1997 s.d. 1998, saat pergerakan reformasi digulirkan, Demi terlibat aktif dalam berbagai kegiatan demonstrasi, sampai pernah beberapa kali ditangkap aparat.

Jatuhnya rezim orde baru dan lahirnya era reformasi menjadi gerbang utama masuknya Demi ke dunia politik. Partai Amanat Nasional (PAN) menjadi pilihannya, hingga dipercaya menjadi Wakil Ketua Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM-PAN).

Karir politiknya terus menanjak. Pada 2004, ia menjadi anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya menggantikan Heri Hendriana yang mengundurkan diri karena lebih memilih menjadi notaris.  Pada pemilu legislatif 2009, ia pun mencalonkan diri kembali dan terpilih lagi. Pada 2011 ia dipercaya menjadi pupuhu pemuda di DPD KNPI Kabupaten Tasikmalaya.

Mundur dari PAN

Munculnya perbedaan prinsip dan persoalan-persoalan lainnya pada tubuh DPD PAN Kabupaten Tasikmalaya, 2012, Demi memutuskan untuk mundur dari PAN sekaligus keluar dari keanggotaannya di DPRD.

Permintaan maafpun disampaikannya kepada masyarakat pemilihnya di daerah pemilihan, hingga keputusannya itu akhirnya dipahami sebagai sebuah keputusan yang bisa membawa kebaikan bagi semua pihak.

Pasca keluarnya dari DPD PAN dan DPRD Kabupaten Tasikmalaya, ternyata membuat sejumlah partai politik meminangnya untuk bergabung. Karena latar belakang serta kepiawaannya dalam berorganisasi dan berpolitik dinilai sangat baik, sehingga diharapkan mampu membawa kemajuan lebih baik lagi bagi partai-partai politik tersebut.

Demi akhirnya memilih berlabuh di DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tasikmalaya. Pilihannya itu tidak serta merta dilakukannya begitu saja, karena terlebih dahulu melakukan komunikasi bersama dengan sahabat, rakyat pemilih di daerah pemilihannya, hingga kalangan ulama.

“Namun memang saat itu terbersit kekhawatiran, masyarakat akan kebingungan atas kepindahan partai tersebut, karena di daerah pemilihan saya sudah dikenal sebagai kader PAN dan membangun masyarakat bersama partai ini,” kenang suami Yati Cahyati dan ayah empat anak itu.

Kekhawatiran itu tak terbukti. Pada pemilu legislative 2014, ia terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya dari PDI Perjuangan. Malah, perolehan suaranya naik 40 persen dibanding pemilu sebelumnya.

Sebagai orang baru di DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tasikmalaya, Demi tidak banyak memiliki keinginan apapun, karena sadar banyak senior di dalam partai tersebut yang harus dihormati. Namun kemudian kepercayaan seluruh pengurus partai kepadanya sudah tidak diragukan lagi, hingga diberikan jabatan ketua Fraksi PDI Perjuangan sampai sekarang. [Kus]

Komentari

komentar

Komentari

Komentari