Sentra Industri

Di Antara Alat Musik Listrik, Angklung Masih Dilirik

initasik.com, sentra industri | Angklung merupakan salah satu alat musik tradisional khas Jawa Barat. Kendati kini banyak alat musik listrik, keberadaannya masih dilirik. Angklung tetap digunakan dalam berbagai seni tradisi atau pelajaran kesenian atau karawitan.

Rosidah, salah seorang pembuat angklung di Desa Margamulya, Kecamatan Sukaresik, Kabupaten Tasikmalaya, mengaku sudah puluhan tahun menekuni pekerjaannya itu. Bersama suaminya, perempuan berusia 53 tahun itu sampai sekarang masih bertahan membuat alat musik berbahan bambu tersebut.

“Yang bagus mah bambu hitam,” jawabnya setelah ditanya mana yang lebih bagus; bambu hitam atau kuning, Selasa, 26 Januari 2016. Menurutnya, selain tampilan fisiknya lebih menarik, angklung yang terbuat dari bambu hitam suaranya cenderung lebih merdu.

Ia menjelaskan, membuat angklung itu mudah susah. Setelah memilih bahan baku, bambu tidak boleh langsung dibuat angklung. Harus didiamkan dulu selama delapan bulan. Itu untuk mengeringkan bambu yang mengandung banyak air.

Dalam sehari, ia bisa membuat sekitar 10 oktav angklung, tergantung pesanan yang datang. Saat ditanya mengenai omzet, Rosidah malah tertawa. Menurutnya, usaha angklung yang dijalaninya biasa memakai sistem penjualan kontrak, seperti dengan pemerintah.

“Omzet perbulan tidak menentu, tergantung pesanan. Kita sistemnya kontrak, misalnya selama tiga bulan meminta sekian ratus set angklung,” ungkapnya.

Untuk bahan baku, ia mendapatnya dari daerah Bungbulang, Cipatujah. Dikirimnya lima bulan sekali. Soal kendala, lebih dominan lantaran bahan baku yang dikirim tidak seperti yang diharapkan. Tidak semua bambu panjangnya sama. Kadang terdapat bambu muda, atau ruas bambu yang terlalu pendek.

“Kalau bambu yang masih muda sering mengkerut, dan kalau dipaksakan dibuat angklung tidak akan mengeluarkan suara,” terangnya. eri

Komentari

komentar