Humaniora

Di Balik Senyum Ceria Nobita, Ada Kisah Membuncah Seorang Bocah

initasik.com, humaniora | Suatu petang di Taman Kota, Kota Tasikmalaya. Orang-orang hilir-mudik. Sebagian duduk santai sambil bercengkrama. Di antara mereka ada seseorang yang menarik perhatian. Dia pakai kostum Nobita, tokoh di film kartun Doraemon. Mungil. Sepertinya masih kecil. Anak-anak.

Ternyata benar. Dia seorang siswa sekolah dasar. Namanya Ridho Imam Syuhada. Masih duduk di bangku kelas 2 SDN Lengkong, Kota Tasikmalaya. Ia terpaksa jadi badut. Cari uang. Berharap dapat recehan dari orang-orang yang ingin difoto dengan “Nobita”. Di usianya yang masih sangat belia, Ido harus mencari nafkah. “Buat bantu-bantu ibu di rumah,” ujarnya kepada initasik.com.

Aktivitasnya itu dilakuan sejak Magrib datang. Paginya sekolah. Berangkat dari rumah di Kalangsari ke Taman Kota dengan berjalan kaki. Pulangnya terkadang diantar sama pemilik kostum. Jelang tengah malam.

Saat ditanya keberadaan orangtua, ia mengaku sudah tak memiliki ayah. Untuk menutupi kebutuhan hidup, ibunya jadi buruh konveksi. Hal itulah yang mendasari Ido terpaksa menjadi badut.

Ia bercerita, awal mulanya jadi badut, sekitar setahun lalu dirinya sedang duduk di sekitar kampus Unsil. Lalu ada seorang pria yang menawari Ido untuk menjadi badut. Sistemnya bagi dua. Gayung bersambut.

Hampir setiap malam, ia berjalan-jalan di Taman Kota dan sekitarnya sambil membawa ember putih yang ukurannya cukup besar bagi anak seusianya. Dalam sehari, pendapatannya tidak menentu. Antara Rp 25 ribu sampai Rp 100 ribu. Berapapun dapatnya, hasilnya dibagi dua dengan pemilik kostum.

Terpisah, ibunda Ridho Imam Syuhada, Sri mulyati, mengatakan, dirinya sudah mengetahui kebiasaan anaknya yang suka cari uang di jalan. “Itu kemauannya. Kalau dilarang, Ido suka ngambek,” ujar warga Kalangsari 1, Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Cipedes.

Menurutnya, uang yang dihasilkan Ido dari jadi badut dipakai untuk keperluan sehari-hari, termasuk memenuhi keperluan kakaknya. Sebagian ditabung. Jika tidak sedang menjadi badut, ia mengamen atau bekerja di sebuah cafe di simpanglima. “Dia sudah seperti tulang punggung keluarga,” imbuh Sri.

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan initasik.com, Ridho merupakan anak yang kurang bisa diatur saat berada di sekolah. Sulit diajak bicara. Bila dinasihati kadang melawan. Karakter kerasnya disebabkan pergaulan di jalan yang cenderung tidak beraturan. Prestasi akademiknya juga jeblok. Belum lancar baca tulis. [Dan]

Komentari

komentar