Direktur Utama PT Pertani, Dr. Wahyu | Jay/initasik.com
Ekbis

Dibanding Bandung, Tasikmalaya Lebih Layak Menjadi “Kota Kreatif Sedunia”


initasik.com, ekbis | Pemerintah pusat memiliki perhatian khusus pada sektor ekonomi kreatif dengan dibentuknya Badan Ekonomi Kreatif Indonesia. Idealnya, kata Dr. Wahyu, direktur Utama PT Pertani (Persero), ketika ekonomi dan industri kreatif dilembagakan sebagai arus kebijakan nasional, Tasikmalaya mencapai puncak vitalitas kreatif dan inovatifnya.

“Secara historis, Tasikmalaya lebih layak menjadi ‘Kota Kreatif Sedunia’ dibanding Kota Bandung,” tulis Wahyu dalam makalahnya di Seminar Multistakeholders Tasikmalaya 2050: Landasan Kritis Menuju Pembangunan Tasikmalaya yang Berkelanjutan, yang digelar ikatan alumni SMAN 2 Tasikmalaya, di Hotel Santika, Kamis, 6 Juli 2017.

Namun, sambungnya, yang diharapkan itu tidak terjadi. Alih-alih mendunia, yang terjadi malah sebaliknya. Melansir hasil penelitian Prodi Agribisnis Unpad, Wahyu menyebutkan, hal itu disebabkan semakin tua umur pelaku UMKM dan lambatnya upaya pendelegasian kepada generasi yang terdidik dan berkeahlian.

Selain itu, adanya bias pemihakan masyarakat dan pemerintah pada usaha-usaha kreatif nonpertanian, terutama pada usaha konveksi (bodasan). “Ada paradoks antara degradasi usaha kreatif pedesaan yang berbahan baku lokal, seperti pertanian dan peternakan, dengan usaha kreatif konveksi yang berbahan baku impor,” tuturnya.

Paradoks kedua, sampai paruh pertama 1990an, usaha-usaha kecil menengah yang berkembang di bagian selatan Tasikmalaya sangat diwarnai sumber daya alam lokal, baik agroindustri singkong, kelapa, aren, pisang, kayu, dan bamu, sekarang justru didominasi usaha konveksi (bodasan, bordir) skala kecil menengah yang tidak terkait dengan potensi sumber daya alam setempat.

“Ironi. Padahal, kota dan Kabupaten Tasikmalaya, terutama di bagian selatan, identik dengan perikanan air tawar, perkebunan, peternakan, holtikultura, tanaman keras, tanaman obat dan rempah. Idelanya, potensi Tasikmalaya bagian selatan tumbuh berkembang seiring dengan membaiknya fasilitas jalan, jembatan, angkutan dan komunikasi,” beber Wahyu.

Menurutnya, usaha-usaha kreatif skala kecil menengah kreatif yang baru memang tumbuh di Tasikmalaya, seperti kuliner, padi organik, jasa transportasi dan lainnya. Namun, yang jadi persoalan, jumlah UMKM yang tumbuh tidak sebanding dengan UMKM yang runtuh.

“Jika kondisi sekarang saja sudah memburuk, apalagi setelah konektivitas ASEAN, ASIA, dan ASIA Pasific benar-benar dilakukan. Jangan-jangan, dengan dibukanya jalan tol dari Bandung-Cilacap, tidak akan banyak berpengaruh terhadap pembangunan pertanian dan peternakan di Tasikmalaya. Jangan-jangan akan semakin menenggelamkan ekonomi dan industri kreatif Tasikmalaya,” paparnya.

Ia menilai, meningkatkan nilai tambah dan mengembangkan daya saing berkelanjutan sektor pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, dan kehutanan di Tasikmalaya tidak cukup dengan hanya mengandalkan pelaku-pelaku yang sudah tua dan dengan cara-cara tradisional-konvensional. Regenerasi pelaku ekonomi dan industri kreatif merupakan prioritas utama.

“Tugas utama generasi kini adalah mewariskan dan menguatkan mental, jiwa, dan modal sosial kewirausahaan para generasi era bonus demografi. Girah, karsa, dan daya juang untuk berprestasi dan berwirausaha harus ditanamkan dan dilestarikan dalam seluruh lembaga pendidikan,” saran alumnus SMAN 2 Tasikmalaya dan doktor lulusan Universitas Padjadjaran itu. [Jay]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?