Humaniora

Didi Tetap Setia Pakai Sepeda Antarkan Koran ke Pelanggan

initasik.com, humaniora | Didi Tarmedi, 65 tahun, sampai saat ini masih setia memakai sepeda kayuh dalam mengantarkan koran ke semua pelanggannya. Itu sudah dilakoninya sejak 27 tahun lalu. Di saat teman-teman lopernya sudah beralih ke sepeda motor, ia tetap memilih menggowes.

Pilihannya itu bukan tanpa alasan. Selain menyehatkan, juga mengefektifkan waktu. Kendati di rumahnya ada motor, ia tak mau menggunakannya. “Jarang dipakai motor mah, paling sama anak,” ujarnya saat diwawancara usai mengambil koran di Sariksa Agency, agen koran dan majalah yang berada di Paseh, Kota Tasikmalaya, Rabu, 02 Agustus 2017.

Menurutnya, dengan memakai sepeda, ruang geraknya lebih bebas. Tidak terkena rambu-rambu dilarang masuk alias forbidden. Lewat manapun bisa. Irit juga. Tanpa harus beli bahan bakar minyak.

Ditanya soal kondisi penjualan koran sekarang, ia membuang napas panjang. Keadaannya jauh berbeda dibanding dulu. Dicontohkannya, dulu ia punya lebih dari empat puluh pelanggan salah satu koran nasional. Kini, jumlahnya tinggal belasan.

“Merosotnya sangat terasa. Kalau dulu, selain punya langganan, jual eceran pun ramai. Sehari bisa habis seratus eksemplar. Sekarang, eceran paling banyak sepuluh. Kalau tidak punya usaha lain, jualan koran sudah tidak bisa diandalkan,” tutur suami Tuti Umi dan ayah empat anak itu.

Hal yang sama dirasakan Tomi Mulyana. Ia sudah jadi loper koran selama 45 tahun. Dari tahun ke tahun, penghasilannya menurun. Saat ramai, ia mengaku punya langganan sampai 200 orang. Itu dari satu koran. Sekarang hanya 80-an.

“Penghasilan saya dulu bisa tiga kali lipat dibanding guru. Sekarang mah jauh. Kalau tidak punya usaha warung di rumah, repot,” akunya. [Jay]

Komentari

komentar