Wawan (kanan) dan Pian | Jay/initasik.com
Humaniora

Dieksploitasi Orangtua, Dua Siswa SD Ini Tidak Tahu Agama dan Pancasila

initasik.com, humaniora | Dieksploitasi kedua orangtuanya, Guntur Kurniawan dan Sopiandi tidak tahu agama dan kitab suci Alquran. Ditanya agamanya apa, mereka geleng kepala. Ditanya siapa Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam, tidak tahu.

Ditanya salat Magrib berapa rakaat, jawabannya empat. Ditanya Pancasila pun sama saja. Saat disuruh menyebutkan sila-sila dalam Pancasila, mereka malah tertawa. Giliran ditanya soal uang, langsung menyahut.

Guntur Kurniawan, biasa disapa Wawan, kini duduk di bangku kelas 6. Sedangkan adiknya, Sopiandi alias Pian, masih kelas 2. Keduanya sekolah di SDN Tuguraja 4, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya. Ada satu lagi saudaranya, Abdul Jalaludin, sekolah di tempat yang sama, kelas 6.

Jumat, 21 Juli 2017, sekitar pukul sembilan malam, Wawan dan Pian masing-masing mendorong roda di Jl. Siliwangi. Wawan di jalur kiri, Pian di sebelah kanan. Kadang beriringan di satu jalur. “Cari rongsokan,” jawab Wawan saat ditanya initasik.com.

Dilihat ke gerobak, tidak banyak barang rongsokan di dalamnya. Hanya ada setumpuk kertas yang sudah diikat dan beberapa botol bekas minuman mineral. Namun, keduanya membawa kantong kecil yang disilangkan ke dada. Isinya uang.

Itu hasil pemberian orang-orang yang iba melihat mereka. Dalam semalam, seorang bisa dapat Rp 30 Ribu sampai 60 ribu. “Untuk ditabung dan bekal sekolah,” sebut Pian dengan bahasa Sunda.

Mereka mengaku “mencari” rongsokan mulai Magrib sampai pukul sepuluh malam. Dari rumah sampai lampu stopan Gunung Roay, lalu balik lagi. Sepanjang Jl. Siliwangi, keduanya tidak terlihat memungut rongsokan yang ada tempat sampah, seperti gelas plastik atau semacamnya. Namun, mereka beberapa kali terlihat menerima uang dari orang-orang yang berbelas kasihan.

Farid, pedagang kaki lima di jalur tersebut, mengatakan, kedua bocah itu setiap malam biasa seperti itu. “Banyak yang suka memberi uang kepada mereka. Kalau saya tidak pernah. Paling beri nasi,” ujarnya.

Ia meyakini, mereka dieksploitasi orangtuanya. Terkadang dalam gerobak suka ada anak perempuan berusia balita. “Kasihan mereka, apalagi kalau sedang hujan. Sekarang masih mending tidak hujan. Biasanya jam sepuluhan, bapaknya sudah menunggu di lampu stopan (Padayungan), menjemput mereka. Pakai motor,” ungkapnya. [Jay]

Komentari

komentar