Peristiwa

Dilarang Jualan, Pedagang Kojengkang Dadaha Kecewa

Kota Tasik | Para pedagang di pasar kojengkang Dadaha, Kota Tasikmalaya, kecewa dengan arogansi Pemkot Tasikmalaya yang melarang mereka berjualan mulai hari ini, Minggu, 29 November 2015, sampai batas waktu yang tidak jelas.

Mereka menilai, alasan pemerintah bahwa seputar stadion Dadaha merupakan sport center yang tidak boleh digunakan berdagang terlalu dibuat-buat. Pasalnya, banyak pedagang yang sudah berjualan selama puluhan tahun, dan tidak pernah diperlakukan seperti sekarang.

Meuni nyeri hate abi mah. Dagang tos puluhan taun di Dadaha nembe ayeuna dikieu-kieu. Padahal, ieu teh hiji-hijina tempat dagang abi. Usaha saminggu sakali,” ujar Uum, warga Cikalang, yang diamini rekan-rekannya dengan teriakan, “Lapar, yeuh, lapar!”

Tita Rosita, pedagang sandal, juga mengutarakan kekecewaannya. Baginya, jualan di Dadaha adalah harapan. Warga Gobras itu mengaku omzet dagang di Dadaha jauh lebih besar ketimbang pendapatan harian berjualan emperan di Pasar Awipari. “Kalau sedang ramai, omzetnya bisa sampai Rp 3,5 juta. Padahal sama-sama ngampar, seperti di pasar,” sebutnya.

Sulaeman, salah seorang perwakilan pedagang, mengatakan, pihaknya memohon agar pemkot meninjau kembali larangan tersebut. Soalnya, bagi para pedagang, jualan di Dadaha ibarat oksigen penyambung napas di saat sesak dompet.

“Saya sehari-hari berjualan di pinggir jalan, depan SMA Angkasa. Dapat untungnya rata-rata Rp 30 ribu. Tapi jualan di Dadaha bisa mencapai Rp 200 ribu. Seharusnya pemerintah berterima kasih kepada kami yang mau berwirausaha, sehingga tidak minta-minta APBD,” tuturnya seusai audiensi dengan Satpol PP dan muspika di kantor Kelurahan Nagarawangi.

Uum, Tita, Sulaeman, dan pedagang lainnya hanya bisa berkumpul di depan GOR Susi Susanti dan sekitarnya. Mereka tidak bisa berjualan seperti biasanya. Berangkat dari rumah hendak jualan, sampai di tempat dihadang Satpol PP yang berjaga di titik-titik masuk.

Kepala Satpol PP Kota Tasikmalaya, Asep Maman Permana, menjelaskan, pelarangan jualan di Dadaha karena, pertama, tempat itu merupakan sport center. “Itu tempat olahraga, bukan untuk jualan. Kalau dipakai jualan, itu menyalahi aturan. Kedua, pada April 2015 Kota Tasikmalaya jadi tuan rumah MTQ tingkat Jawa Barat,” dalihnya.

Lantaran di MTQ itu akan dipusatkan di Dadaha, maka tempatnya harus dibenahi. “Banyak sarana-prasarana yang perlu diperbaiki. Berdasarkan alasan itu, pasar kojengkng ditutup, karena mengganggu renovasi,” tandas Asep.

Ia menyampaikan, larangan itu bukan bersifat sementara, tapi selamanya. Sebanyak 928 pedagang pasar kojengkang tidak boleh lagi berjualan di hari Minggu. Kecuali para PKL yang sehari-hari mangkal di empat titik. Mereka yang berjumlah 126 pedagang itu akan direlokasi. Namun, karena pemkot belum siap sepenuhnya, relokasi akan dilakukan bertahap. initasik.com|shan

Komentari

komentar