Inspirasi

Dirikan sekolah, Harun Disangka Sebarkan Ajaran Sesat

Kabupaten | Tidak mudah bagi Harun Wijaya mendirikan sekolah. Perlu perjuangan dan kesabaran yang tak terbatas. Apalagi status sekolahnya tidak jelas. Ia sendiri menyebutnya sekolah rakyat. Tak ada ruang kelas, apalagi legalitas. Seragam pun bebas.

Pertengahan 2012, Harun mulai merintis sekolahnya di Kampung Citangkil, Desa Pameutingan, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya. Muridnya hanya dua orang; anak pertamanya, Sri Wahyuni, dan teman anaknya, Ika. Mereka belajar di bawah pohon manggis. Harun mengajar semampunya. Maklum, ia hanya lulusan sekolah dasar. Namun, ia paham apa saja yang harus diajarkan kepada muridnya. Pengalaman hidup dan bekal dari pesantren ia jadikan bagian bahan ajar.

Lantaran yang dilakukan Harun dinilai aneh oleh warga sekitar, pria kelahiran 5 Maret 1978 itu dianggap menyebarkan aliran sesat. Apalagi, di kampung tersebut Harun merupakan pendatang. Ia lahir di Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya.

“Apapun yang mereka katakan menjadi kekuatan untuk membuktikan bahwa semua tuduhan itu salah. Saya ingin membuktikan, walaupun tidak ada izin operasional, tapi bisa membangun sekolah yang berguna bagi anak-anak,” tuturnya kepada initasik.com, belum lama ini.

Perlahan, perjuangannya diakui warga. Mereka tidak lagi mencap aneh-aneh. Malah, anak-anaknya dipercayakan kepada Harun. Kini, ada sembilan orang yang belajar di tempatnya. Usia mereka antara 7 s.d. 13 tahun. Tempat belajarnya pun tidak lagi di bawah pohon.

Sejak Juni 2014, ia punya rumah kayu yang dibangun dua tingkat. Itu untuk tempat tinggal, sekaligus tempat belajar mengajar. Di bagian kiri rumah itu ditempeli akar yang membentuk frasa “Sanggar Belajar”. Dari lima ruangan yang ada, tiga di antaranya digunakan sebagai kelas. Guru tetapnya ada dua orang, dan dibantu beberapa relawan. Mereka tidak digaji. Murid-murid pun tidak dipungut bayaran. Semuanya gratis.

Harun menjelaskan, ilmu yang diajarkan di tempatnya sama seperti di sekolah pada umumnya. Ada IPA, IPS, bahasa, dan yang lainnya. Tapi belajarnya lebih banyak langsung dengan alam. Itu dinilainya lebih mudah dipahami murid. Ia mencontohkan pohon pisang. “Bagaimana menjadikan pohon pisang itu sebagai media untuk belajar IPA, Matematika, dan juga bahasa,” tandasnya. initasik.com|ashani/asm

Komentari

komentar