Disepelekan Warga, Mak Eroh tak Patah Semangat
Historia

Disepelekan Warga, Mak Eroh tak Patah Semangat

Ia ingin kampungnya sama dengan kampung lain. Sawahnya subur. Setahun bisa ditanami padi dua kali. Sedangkan lahan di kampung Mak Eroh hanya tanah darat yang bisa ditanami palawija atau padi huma. Hasilnya pun tidak menentu.

Mak Eroh berpikir. Cari solusi. Pasti ada jalan keluar. Ia lantas menjelajahi hutan, mencari sumber air. Selama empat bulan masuk-keluar hutan. Tebing-tebing terjal ditaklukkannya. Akhirnya, pada suatu hari di Juni 1985, ia menemukan air terjun di sungai Cilutung. Ia sangat bahagia, kendati jarak dari kampungnya mencapai 5 kilometer. Ia kembali berpikir. Terbesitlah sebuah rencana “gila”; membuat saluran air yang bisa sampai ke kampungnya.

Idenya itu disampaikan kepada warga dan ketua RT. Mak Eroh bertepuk sebelah tangan. Mereka tidak memberi dukungan, malah menyepelekannya. Ciutkah semangat Mak Eroh? Tidak. Sedikitpun tidak membuat buyar tekadnya. Dengan hati bulat, ia mulai mewujudkan impian besarnya. Setiap hari berangkat ke bukit Dawuhan, tempat air terjun berada. Ia memugar tebing, membuat saluran.

Menggunakan kapak, pahat, belincong, linggis, dan cangkul, Mak Eroh terus mencercah tebing cadas sepanjang 45 meter dengan lebar 2 meter dan tinggi 17 meter. Terkadang, istri dari Encu dan ibu tiga anak itu bergelantungan di tebing dengan hanya seutas tambang. Hal itu dilakukannya selama 45 hari.

Usaha Mak Eroh tidak sia-sia. Saluran “induk” berhasil dibuatnya. Ia kembali menemui RT, dan mengajaknya melanjutkan pembuatan saluran yang menembus Pasirkadu. Ketua RT bergeming. Ia tidak percaya Mak Eroh bisa melakukan itu. Setelah diajak untuk membuktikannya, terbukalah mata RT dan warga yang ikut. Mereka tercengang.

Warga Pasirkadu akhirnya membantu Mak Eroh. Pekerjaan yang belum selesai, dituntaskan gotong royong. Sebanyak 19 kepala keluarga turun tangan. Alhasil, saluran air sepanjang 4,5 kilometer dengan lebar 2 meter dan ketinggian 1 meter yang melalui delapan bukti itu sampai juga ke kampung mereka. Desember 1987, air mengalir ke Pasirkadu.

Perjuangan yang tidak mudah, dan tidak murah tentunya. Peralatan yang digunakan untuk membuat “proyek” Mak Eroh itu menghabiskan 10 belincong, 15 kapak, 10 martil, 25 golok, 30 pahat, dan 40 cangkul. Harga peralatan itu sekitar Rp 400 ribu. Semuanya diperoleh dengan cara berutang kepada Djai, warga Kampung Cigaleuh. Ditaksir, total biaya yang dikeluarkan untuk membuat saluran air itu mencapai Rp 6 juta.

Kisah tentang kegigihan Mak Eroh dalam mewujudkan mimpinya itu dimuat dalam tabloid Mitra Desa, edisi minggu ke-3 November 1987. initasik.com|shan

Komentari

komentar