Peristiwa

Disiplin Latihan; Obat Awet Teater 28 Unsil

Kota Tasik | Hidup sejatinya latihan. Setiap waktu selalu dihadapkan pada hal baru yang menuntut kecapakan bertindak dan kedewasaan merespons. Bergerak adalah sebentuk tanggung jawab pada hidup. Diam berarti menggali lubang kubur sendiri.

Ketika berlatih, sebuah proses berlaku. Berangsur. Perlahan tapi pasti. Tak ada yang instan. Prinsip itulah yang menjadi salah satu obat awet Teater 28 Universitas Siliwangi dalam proses kreatifnya. Didirikan pada 28 Oktober 1990, unit kegiatan mahasiswa itu sampai sekarang masih berkibar. Puluhan karya telah dipentaskan, tidak hanya di Kota Tasikmalaya tapi sudah lintas pulau.

“Kami rutin latihan seminggu dua kali. Itu sudah menjadi rutinitas sejak dulu untuk menjaga stabilitas organisasi dan silaturahmi. Dengan disiplin latihan, banyak manfaat yang didapat,” kata Eka Cucu Zatnika, kaisar Teater 28 Unsil, saat ditemui di sekretariatnya.

Eka menjelaskan, latihan tersebut dimaksudkan untuk mengenalkan dunia kesenian secara bertahap, mulai dari yang paling dasar yang berkaitan dengan teori-teori, olah vokal, olah tubuh, dunia sastra dan manajeman organisasi. Juga sebagai upaya untuk memberikan pilihan, serta mengolah bakatnya harus di mana. Selain latihan rutin, ada program tahunan, yaitu pentas keliling dan goes to school.

“Menggelar pertunjukan adalah hasil dari latihan. Setiap latihan dibagi-bagi dimensi; ada dimensi musik, sastra, pementasan, dan jaringan. Strategi dalam latihan rutin seperti itu, dibimbing oleh koordinatornya masing-masing, sehingga anak baru dapat memilih dan mengolah di mana bakatnya,” terang Eka.

Dalam setiap latihan, tidak ada tebang pilih. Anggota lama atau yang baru harus ikut. Disinggung soal kendala, ia menuturkan di organisasi manapun pasti ada. Di Teater 28, karena anggotanya mahasiswa, hambatan muncul dari dalam dan luar organisasi. Misalnya, ada beberapa program studi yang menekankan mahasiswanya agar mempertimbangkan keikutsertaan dalam teater, karena akan menghambat perkuliahan.

“Sebelum Unsil jadi negeri, kami dapat dana bantuan. Tapi sekarang kami harus berpikir keras. Namun itu tidak menyulutkan tekad kami untuk menjalankan program kerja,” tandasnya. initasik.com|syamil

Komentari

komentar