Birokrasi

Dispartan Kabupaten Tasik Siap Tampung Beras Organik

Kabupaten Tasik | Agus Kelana, ketua Kelompok Tani Cantilan, Desa/Kecamatan Sukarame, dilematis. Di satu sisi ia sedang semangat bertani padi organik, di sisi lain bingung dengan pemasarannya.

“Kami merasa waswas untuk pemasaran, karena belum berpengalaman dan belum tersertifikasi,” ujarnya saat memberi sambutan dalam panen raya padi organik di Cantilan, Selasa, 21 Maret 2017.

Kendati begitu, ia mengaku antusias menanam padi organik. Area pesawahan yang berada di bawah kelompok taninya seluas 40 hektar. Yang sudah ditanami padi organik sudah 20 hektar. “Kami akan terus meningkatkan keanggotaan di program organik ini,” tandasnya.

Ia meyakini, penanaman padi organik akan memberikan manfaat besar bagi para petani. Perbedaannya sudah terlihat. Saat ditanam padi biasa, per bata hanya menghasilkan 7 kg. Setelah ditanami padi organik, per bata bisa mendapat 11 kg.

Apalagi, Kabupaten Tasik sudah berhasil mengekspor padi organik ke beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat. Harga jualnya jauh di atas beras biasa. Perkilo gram sampai Rp 25 ribu.

Dukungan pemerintah pun tidak setengah-setengah. Pihaknya telah menerima bantuan anggaran Rp 400 juta lebih untuk kepentingan pertanian padi organik. Termasuk dalam membantu penjualan padi organik yang belum tersertifikasi.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Mohammad Zen, mengatakan, dinasnya sudah membentuk koperasi yang salah satunya untuk membantu petani. “Kami bisa membantu penjualan beras organik dari para petani. Walaupun harganya tentu beda dengan harga ekspor, karena belum disertifikasi. Insya Allah akan kami bantu,” ujarnya.

Ia mencotohkan, jika semua eselon II dan III diharuskan membeli beras organik 10 kg per bulan, berapa banyak beras organik yang bisa terjual? Itu diyakini bisa membantu para petani, sehingga tetap semangat menanam padi organik. initasik.com|is/adv

 

Komentari

komentar