Kepala Dinas Sosial Kota Tasikmalaya, Firmansyah || Jay | initasik.com
Birokrasi

Ditanya Soal Kemacetan Pembagian Rastra, Perwakilan BNI Tasik Malah Kabur

initasik.com, birokrasi | Pendistribusian beras sejahtera (rastra) macet di tengah jalan. Sudah empat bulan tidak dibagikan kepada para penerima manfaat. Yang sudah dibagikan baru periode Januari. Itupun belum semua menerima.

Kepala Dinas Sosial Kota Tasikmalaya, Firmansyah, mengatakan, pembagian rastra di periode pertama dari kelompok PKH sudah 97,33 persen dari jumlah 27.531. Sedangkan yang nonPKH baru 63,57 persen dari 22.075 penerima. “Itu untuk periode Januari,” sebutnya di sela sidak ke Kompleks Pergudangan Bulog Linggajaya, Selasa, 30 Mei 2017.

Ia mengaku tidak tahu pasti kenapa jatah rastra untuk Februari sampai Mei belum dibagikan. “Kewenangan pemesanan beras ke Bulog itu ada di BNI (Bank Negara Indonesia). BNI sudah ada MoU dengan Kementerian Sosial untuk penyaluran BPNT ini. Silakan klarifikasi kepada BNI kenapa belum disalurkan,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Koordinator PKH Kota Tasikmalaya, Dandan Haryono, menepis kalau data penerima rastra dari kelompok PKH belum terverifikasi (Baca: Data Penerima Rastra Belum Valid, Ratusan Ton Beras Menumpuk di Bulog).

Menurutnya, rastra itu pengganti program raskin yang sebelumnya dijalankan manual. Sekarang tidak begitu. Penerima manfaat akan diberi kartu khusus, semacam kartu ATM, yang hanya bisa digunakan di e-warung atau agen-agen BNI.

“Kota Tasikmalaya ditunjuk jadi salah satu daerah yang dijadikan pilot project program ini. Seluruh Indonesia totalnya ada 44 kota/kabupaten. Tapi, khusus di Kota Tasikmalaya belum berjalan lancar. Baru ada sekali pendistribusian. Seharusnya tiap bulan ada,” paparnya.

Ia menduga, ujung permasalahannya ada di BNI. “Kalau BNI tidak pesan barang (beras ke Bulog) dan tidak membuat jadwal pencairan, program tidak akan berjalan. Kalau kita di PKH tidak ada masalah,” tandasnya.

Kendala lainnya adalah belum banyaknya e-warung dan agen-agen BNI yang bisa dimanfaatkan warga untuk mengambil beras dan gula. Dalam program BPNT itu, setiap penerima manfaat berhak menerima 10 kg beras dan 2 kg gula pasir. Itu bisa diambil di warung-warung khusus dan agen BNI.

Namun, sampai sekarang, e-warung di Kota Tasikmalaya yang bisa dimanfaatkan baru ada satu dari total pengajuan e-warung 58 titik. Begitupun dengan agen BNI. “Katanya ada 200 agen. Tapi kami kurang tahu pasti. Itu ada Pak Nurjani, wakil pimpinan BNI Tasikmalaya, bisa ditanyakan langsung,” saran Dandan.

Namun, saat perwakilan dari BNI yang juga ikut dalam sidak akan dikonfirmasi, ia malah bungkam. Didesak ditanya pun tetap diam. Tutup mulut. Malah ia memilih kabur. “Buat apa ikut sidak atuh kalau tidak mau diwawancara mah,” celetuk seorang wartawan. [Jay]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?