Inspirasi

Diundang Presiden, Undang tidak Datang

Kabupaten | “Ini kepentingan negara atau pribadi? Kalau kepentingan pribadi, saya mohon maaf tidak bisa berangkat,” tulis H. Undang menjawab surat undangan Presiden Soeharto yang memintanya datang ke istana, tahun 1980-an.

“Saya tidak bisa meninggalkan istana satu menit pun juga. Saya minta Bapak hadir,” pinta Soeharto masih berharap. Namun, Undang keukeuh. Ia tidak bisa memenuhi undangan tersebut. “Sebetulnya saya mencari orang seperti Bapak. Banyak orang yang dipanggil ke istana, langsung datang. Tapi Bapak tidak,” puji Soeharto kemudian.

Pengalaman itu diceritakan Undang kepada initasik.com saat berbincang di teras rumahnya, pada satu kesempatan. Warga Kp. Ciawitali, Desa Sukaluyu, Kecamatan Mangunreja, Kabupaten Tasikmalaya, itu mengisahkan perjalanan hidupnya selama menjadi ahli pijat. 37 tahun tentu bukan waktu sebentar. Ratusan ribu orang telah dipijatnya.

Sekitar tahun 1979-an, sehari bisa mencapai seribu pasien yang datang ke tempatnya. Praktik dari pagi sampai malam. Itupun tidak terlayani semua. Terus begitu sampai tahun 1997. Undang kewalahan. Stamina tubuhnya menurun. Kelelahan. Sejak itu pasien dibatasi “hanya” sampai 500 orang.

Kini, ia cuma menerima pasien 50 orang. Praktiknya pun tak lebih dari tiga jam. Pagi hari. “Kalau tidak dibatasi pasti tidak akan tertahan. Pasien banyak, tapi tenaga saya semakin lemah. Mental kuat, tapi fisik lemah. Sudah tua,” ujar suami Hj. Yati, dan ayah 11 anak itu.

Usia Undang sudah 66 tahun. Sepuh. Wajar jika mudah lelah saat melayani pasien. Ia mengaku sudah tak sekuat dulu. Maunya istirahat penuh, tapi ia tidak bisa mau mengecewakan siapapun yang jauh-jauh datang ke rumahnya. “Yang wajib dibantu, bantu. Tidak akan rugi sedikitpun dalam membantu orang lain. Niati ibadah. Harus ikhlas. InsyaAllah berkah,” imbuhnya.

Undang menjelaskan, menjadi ahli pijat sejak berumur 27 tahun. Tak heran, pasiennya sudah tak terhitung. Bukan hanya dari Tasikmalaya, tapi juga daerah lain. Bukan hanya warga biasa, para pejabat pun sering ke tempatnya. Saat Try Sutrisno menjabat wakil Presiden, ia sering datang ke rumah Undang. Begitupun dengan para pejabat lokal.

Ditanya bagaimana bisa mahir memijat, Undang mengaku tak tahu pasti. Ia menduga, kepandaiannya dalam memijat berasal dari sang kakek. Hingga kini, kesebelas anaknya tidak ada yang bisa memijat seperti dirinya. Menurutnya, ilmu pijat yang dimilikinya tidak bisa diturunkan. “Itu anugerah Allah SWT,” pungkasnya. initasik.com|ashani

Komentari

komentar