Sosok

Dudu Abdul Rahman; Mulai “Time’s Jhon” Hingga Komunitas Pers Cilik


Kota Tasik | Perjalanan hidup pria yang satu ini terbilang unik. Saat remaja, pemilik nama D. Dudu Abdul Rahman ini sangat menggandrungi musik. Sekolahnya pun sempat terganggu. Prestasi akademiknya tak terlalu menggembirakan.

“Karena saya tidak bisa lepas dengan musik, akhirnya saya berbicara pada orangtua, bahwa selama belajar di SMA saya tidak akan terlalu serius mengejar prestasi akademik. Saya akan mencari teman-teman pemusik dan membentuk grup band. Orangtua, terutama ibu, merelakan keputusan yang saya ambil,” tuturnya.

Selama berada di bangku SMA, ia lebih mengeksplorasi dunia musik, membentuk band di dalam dan luar sekolah. Mengikuti berbagai festival musik pelajar hingga ibu kota. Salah satu pengalaman terbaiknya saat itu adalah menjuarai Festival Musik Pelajar di Purwakarta. Padahal, saat mengikuti kegiatan itu ia hanya mempunyai uang seribu rupiah.

“Perjuangan tersebut diganjar piala dan uang pembinaan. Karena punya uang, saya pun beli tiket untuk pulang, bisa duduk di kursi dengan nyaman tidak diuber-uber petugas karcis di kereta api,” ujarnya terkekeh.

Usai menamatkan SMA, keinginannya untuk masuk perguruan tinggi musik tidak terealisasi, karena masalah biaya. Ia pun memilih mendirikan grup band bersama teman-teman SMPnya dulu. Nama grupnya “Time’s Jhon”.

“Musik adalah salah satu alasan kenapa jantung saya terus berdenyut untuk membuat irama dalam hidup,” aku pria kelahiran 7 Juni 1983 itu.

Berjalan setahun menggawangi “Time’s Jhon”, ia melanjutkan pendidikannya dengan masuk PGSD. Tapi, kecintaannya pada musik tak terhenti. Kuliah dan music jalan beriringan. Ia pun mendirikan sebuah komunitas yang diberi nama Teacher Music Community (TMC).

Salah satu kesuksesannya yaitu menggelar teater “Opera Otak Kanan Anak Negeri” bersama Teater Cagur, Teater 28 Unsil, dan beberapa komunitas luar kampus. Selesai kuliah, pelabuhannya kini adalah mengajar.

Sekarang ia tercatat sebagai guru PNS di SD Negeri Perumnas Cisalak Kota Tasikmalaya. Di sekolah ini ia mendirikan Komunitas Pers Cilik Cisalak (Rumpaka Percisa). Itu adalah komunitas yang memfokuskan pada pelatihan gratis dengan memberi ruang terhadap karya tulis, ide kreatif, dan apapun bentuk dari karya anak-anak melalui media online, elektronik, cetak, atau audiovisual. Puluhan karya telah diterbitkan oleh komunitas tersebut, seperti buku, komik strip, video diary, video clip, sound track, dan konser musik.

Dalam berkarya, ia menggunakan nama pena Vudu Abdul Rahman. Beberapa karyanya dimuat di berbagai antologi; Esai Pendidikan, Give Spirit For Indonesia, Sketsa Angin di Atas Pasir, Kumpul Guru Jadi Guru, Akar yang Merambat, salah satu penulis cerita komik Shelter of the Sky (Slowork Publishing) 2016, pencipta lagu Album Nyawa Bunga Percisa Kids, 2015, menulis berita dan artikel di beberapa media cetak-online lokal, interlokal, nasional dan internasional.

Suami dari Priska Pramudita kini telah dikarunia tiga putra/i, yaitu Fiorenza Fahrasha Jilanzhiya (6,3 tahun), Khalifali Almeida Renolendrya (5,8 tahun), dan Grilian Lesavir Almalaya (7 bulan). initasik.com|Ahmad

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?