Beberapa siswa baru SMA Pasundan 1 Kota Tasikmalaya | Jay/initasik.com
Edukasi

Dulu Ternama, Sekolah-sekolah Swasta di Kota Tasik Kini Merana

initasik.com, edukasi | Era 1990-an, SMA Pasundan 1 merupakan salah satu sekolah swasta ternama di Kota Tasikmalaya. Dulu terkenal dengan sebutan Paswan (Pas One, red). Punya gengsi tersendiri. Sekolah favorit. Jumlah muridnya banyak.

Tapi kini, kondisinya merana. Kepala SMA Pasundan 1, Drs. E. Hasanuddin, M.MPd, menyebutnya sangat memprihatinkan. Jumlah siswa yang sekolah di sana menurun drastis. Dulu, satu angkatan bisa sampai 12 kelas.

“Tahun ini yang daftar ada 35 orang, tapi yang baru masuk baru 19 orang,” sebutnya saat diwawancara initasik.com, di ruang kerjanya, Rabu, 19 Juli 2017.

Menurutnya, penurunan jumlah siswa mulai terasa sejak 2008. Pada 2007 satu angkatan masih ada tiga kelas. Sejak saat itu, dari tahun ke tahun terus menurun. “Sekarang sekolah negeri tambah banyak. Mereka diperbolehkan menerima siswa baru sampai 12 rombel (rombongan belajar/kelas). Setiap kelas maksimal 36 siswa. Maka banyak masyarakat yang ingin menyekolahkan anaknya ke sekolah negeri,” tuturnya.

Peraturan yang membolehkan sekolah negeri menerima siswa baru sampai 12 rombel, menjadi salah satu alasan kenapa sekolah swasta semakin ditinggalkan. Ia berharap, aturan itu diubah. Maksimal sembilan rombel, dengan jumlah siswa per kelas 32 orang.

“Kalau dibuat seperti itu, sekolah-sekolah swasta ada harapan untuk berkembang lagi. Kami berharap pemerintah memberikan perhatian kepada sekolah-sekolah swasta. Sekarang rata-rata setiap sekolah swasta hanya punya satu rombel, itupun jumlah siswanya sangat sedikit. Menurut informasi, ada sekolah swasta lain yang hanya punya sembilan orang pendaftar,” beber Hasanuddin.

Di tengah kondisinya yang semakin merana, ia mengaku tetap mempunyai harapan tinggi untuk bangkit kembali. Mutu pendidikan dinomorsatukan. Salah satu ikhtiarnya adalah memberikan pelajaran keterampilan kepada semua siswa, seperti latihan memperbaiki telepon seluler dan materi kewirausahaan.

“Pelajaran agamanya juga ditambah. Semua murid harus bisa menghafal Alquran, terutama juz ke-30. Mereka diberi Alquran yang berasal dari sedekah para guru. Kami juga mendidik siswa untuk bisa pidato,” ujarnya.

Kondisi serupa dialami SMA Pancasila. Dulu, sekolah yang sudah ada sejak 1974 ini sampai membagi dua jam belajar, karena banyaknya jumlah siswa. Ada kelas pagi dan kelas siang. Sekarang? “Jujur saja, kondisinya semakin parah. Tahun ini yang daftar hanya ada 20 orang,” ucap Kepala SMA Pancasila, M. Rachmat.

Ia menilai, salah satu sebab yang membuat kondisi SMA swasta seperti sekarang adalah banyaknya sekolah kejuruan. Menurutnya, pemerintah sedang memberikan perhatian lebih kepada SMK.

“Tapi sayangnya pemerintah terlihat tidak selektif. Dulu, saat akan mendirikan SMA swasta, salah satu syaratnya adalah memiliki bangunan sendiri. Tidak boleh menumpang di tempat orang lain. Sekarang pendirian SMK tidak begitu. Banyak SMK yang tidak mempunyai bangunan. Mereka masih mengontrak,” paparnya.

Lantaran jumlah siswanya semakin berkurang, dari 15 ruang kelas yang dimiliki SMA Pancasila, hanya beberapa yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Bangunan dua lantai yang masih tampak kokoh itu tidak banyak penghuninya.

Dibanding sekolah swasta lain, SMA Pasundan 1 dan SMA Pancasila masih terbilang kuat. Meski terengah-engah, keduanya masih bisa bernapas. Beda dengan SMA Siliwangi, misalnya. Sekolah itu kini sudah tutup. [Jay]