Peristiwa

Dunia Pendidikan Gaduh

Kota Tasik | Dunia pendidikan di Kota Tasikmalaya rupanya sedang gaduh. Para pendidik banyak yang terusik dengan kebijakan wali kota Tasikmalaya soal periodesasi kepala sekolah. Mereka turun ke jalan. Berunjuk rasa. Bawa poster dan meneriakkan yel-yel. Kaum hawa pun tak kalah semangat.

Siang tadi, 2 Februari 2015, para guru yang jabatan tambahan sebagai kepala sekolahnya sudah berakhir mendatangi bale kota. Mereka menilai wali kota telah melanggar aturan dalam mengambil kebijakan, dan menuntut mencabut surat keputusan pemberhentian kepala sekolah.

Jika dalam tujuh hari sejak unjuk rasa tidak ada jawaban, guru mengancam akan mengajukan persoalan tersebut kepada gubernur dan Kemendikbud, Komnas HAM, presiden, atau menempuh jalur hukum.

“Sebenarnya itu hak. Itu hak para guru juga untuk berunjuk rasa. Tapi saya rasa itu tidak etis. Padahal cukup dengan audieunsi. Malu kalau demo seperti tadi. Bisa saja mereka yang demo hari ini, nanti akan kami panggil,” ujar Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, Budiaman, usai menerima pengunjuk rasa di bale kota.

Ia menegaskan, dalam periodesasi kepala sekolah itu, pihaknya telah menempuh jalur yang benar. “Kami sampai konsultasi dengan Kementerian. Jika ada yang tidak puas, itu wajar. Sebuah keputusan itu tidak mungkin memuaskan semua pihak,” tandasnya seraya menegaskan, jika ada guru yang terlalu jauh mempermasalahkan persoalan tersebut, seperti mogok mengajar, pasti akan ada sanksi yang dikenakan.

Bukan hanya para guru, dosen dan karyawan Universitas Negeri Siliwangi pun menggelar aksi serupa, di hari yang sama. Mereka menuntut Yayasan Universitas Siliwangi memberikan santunan purbakti.

Ketua Tim 7 Perjuangan Purnabakti, Elya Hartini, menjelaskan, saat ini ia dan rekan-rekannya bukan lagi pegawai YUS. Status itu sudah putus sejak 1 April 2014, seiring penegerian Unsil, sehingga uang itu harus dibagikan.

Menurutnya, ada 246 orang eks pegawai yang menuntut YUS agar memberikan hak santunan purnabakti sesuai Skep 147/YUS/04/2013. “Batas akhirnya adalah bulan Maret untuk direalisasikan,” tandas Elya.

Terpisah, Rektor Unsil Prof. Rudi Priyadi berharap aksi tersebut tidak sampai mengganggu proses pembelajaran di kampus. “Kalau hari ini memang sedang libur. Saya dengar mereka mengancam akan mogok mengajar. Tentu itu tidak kami harapkan. Silakan perjuangkan hak, tapi jangan sampai mengorbankan pelayanan kepada mahasiswa. Aktivitas belajar jangan terganggu,” tandasnya. initasik.com|ashani

Komentari

komentar