Peristiwa

Efek Harga Mahal, Pabrik Pengolahan Garam di Tasikmalaya Terpaksa Pangkas Karyawan

initasik.com, peristiwa | Mahalnya harga garam di pasaran membuat pabrik pengolahan garam kewalahan. Ada yang terpaksa menghentikan operasinya, hingga merumahkan karyawan. Seperti yang terjadi di Kampung Ciseda, Kecamatan Singaparna, dan Kampung Girimukti, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya.

Di sana terdapat pabrik pengolahan garam yang telah berjalan sejak puluhan tahun. Namun kini, sebagian besar pabrik-pabrik itu memilih tutup, meski sebagian masih beroperasi tetapi dengan mengurangi jumlah produksi, bahkan merumahkan sebagian besar karyawannya.

“Bahan bakunya tidak ada, sehingga karyawan tidak bisa mengerjakan pengolahan,” ungkap pengelola pabrik pengolahan Garam Permata di Kampung Girimukti, Desa Sukajadi, Reza.

Menurutnya, bahan baku pembuatan garam selama ini dipasok dari daerah Cirebon dan Surabaya yang mencapai 2 ton untuk setiap minggunya. Kali ini pasokan hanya mencapai 1 ton. Itupun dengan harga yang naik tiga kali lipat. Semula hanya Rp 2.500 per kg, sekarang mencapai Rp 6.000.

“Makanya kami pun melepas garam yang siap konsumsi dengan harga yang lebih mahal, karena bahan bakunya pun mengalami kenaikan yang signifikan, sehingga sudah pasti harga garam di pasar bisa naik berkali-kali lipat,” ujarnya.

Padahal, pabrik pengolahan garam yang ada di sana menjadi salah satu mata pencaharian bagi warga untuk bekerja mendapatkan penghasilan. “Kalau upah, saya dibayar harian. Saya bekerja sudah lama. Lumayan untuk menambah penghasilan, membantu suami yang hanya bekerja sebagai buruh tani,” kata salah seorang buruh pabrik, Nani.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tasikmalaya, Heri Sogiri, menyebutkan, pasokan bahan baku garam selama ini didatangkan dari wilayah kawasan pesisir pantai utara Pulau Jawa.

Ditenggarai, para petani garam di sana mengalami gagal panen, sehingga pasokan bahan baku pun menjadi sangat terbatas dan kalaupun ada harganya jauh lebih mahal. “Saya pikir persoalan ini bukan hanya terjadi di Kabupaten Tasikmalaya. Diharapkan, kendala seperti ini tidak berlarut-larut dan para petani garam di Indonesia pun kembali bangkit,” ujar Heri. [Kus]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?