Olahraga

Ekspedisi Puncak Galunggung; Pendakian Masih Tersisa

Kabupaten Tasik | Semua sontak membaca Subhanallah dan Laa Ilaaha Illallah. Gunung Galunggung bergetar. Gempa mengguncang. Kencang. Terasa diayun. Durasinya cukup lama. Pasrah. Berserah.

Rabu, 6 April 2016. Pukul sembilan pagi. Pendakian puncak Gunung Galunggung dimulai. Targetnya Beuti Canar. Konon, ketinggiannya sekitar 2.240 mdpl. Desa Cidugaleun, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, menjadi titik awal pemberangkatan. Rute ini jarang digunakan para pendaki. Biasanya mereka lewat Cisayong atau Talaga Bodas, Garut.

Abah Miin, penunjuk arah, menyebutkan, pendakian akan menempuh waktu sekitar empat jam. Jika lewat Cisayong, untuk bisa sampai Beuti Canar itu katanya menghabiskan waktu sampai 15 jam.

Ternyata meleset. Pencapaian jauh dari target. Empat jam itu mungkin baru setengah perjalanan. Kami sering berhenti. Istirahat sejenak. Perlu fisik yang prima agar bisa cepat sampai. Semakin ke atas, medannya kian menantang. Ilalang tumbuh tinggi merintang. Ujung ransel sering menyangkut ranting-ranting pohon yang kering. Menyulitkan.

Untuk mendaki puncak Galunggung sebaiknya pakai sepatu. Sandal tidak direkomendasikan. Pakai kaos lengan panjang lebih bagus. Di atas banyak rumput berduri. Itulah kenapa dinamakan Beuti Canar. Beuti itu semacam umbi-umbian, sedangkan canar berarti duri.

Pukul satu siang. Perjalanan kembali terhenti entah untuk yang keberapa kali. Istirahat lagi. Sekalian ambil air. Suara gemericik di bawah sana sangat terasa nyaman di telinga. Mendengarnya saja menyegarkan.

Itu adalah satu-satunya sumber air selama perjalanan sampai tujuan. Tak mudah untuk mencapainya. Harus turun menyusuri pinggir tebing. Segalanya memang butuh perjuangan. Namun, sungai kecil yang dasarnya bebatuan besar nan licin itu telah memberi energi baru pada tubuh. Airnya sangat dingin. Jernih. Langsung diminum. Melegakan.

Dua jerigen kecil dan beberapa botol bekas minuman mineral semuanya diisi air. Perjalanan pun dilanjutkan setelah santap mi rebus. Makanan instan itu sering jadi pilihan anak gunung saat perut keroncongan. Cukup panaskan air, selesai.

Tenaga kembali segar. Langkah tegap melaju. Di atas sana puncak gunung menanti. Terus maju. Hari memasuki sore. Awan mulai gelap. Langit Galunggung mendung. Suara petir terdengar begitu dekat. Menggetarkan.

Lewat pukul lima sore. Satu per satu butiran air turun dari celah-celah daun. Alam bicara lain. Hujan turun. Bergegas cari tempat agak luas. Pasang tenda. Sementara, berteduh di bawah baliho bekas. Asal tidak basah kuyup.

Setelah hujan mereda, pasang tenda di tengah jalan. Terpaksa. Tak ada lahan lagi. Kanan-kiri tebing. Pendakian pun terhenti setelah hampir menempuh sembilan jam perjalanan. Itu belum sampai tujuan. Apa boleh buat. Tenaga sudah terkuras. Lelah. Istirahat satu malam.

Kamis, 7 April 2016. Pukul tujuh pagi. Makan nasi leumeung plus sarden. Leumeung adalah beras yang dibungkus daun congkok, kemudian dimasukkan ke dalam bambu. Bakar hingga matang. Abah Miin sangat piawai membuatnya.

Pendakian dilanjutkan. Medan kian menantang. Sangat curam. Beruntung, ransel dan peralatan lainnya disimpan di tempat pasang tenda. Badan tidak membawa beban. Tapi tetap saja melelahkan.

Semua kelalahan itu terbayar lunas saat sampai tujuan. Jarak tempuhnya hanya sekitar satu jam dari tempat bermalam. Sejauh mata memandang tak ada yang menghalangi. Berdiri di antara langit dan gunung. Di bawah, kawah Gunung Galunggung tampak hijau kusam.

“Itu puncak agung,” sebut Abah Miin sambil menunjuk puncak gunung di sebelah utara. Katanya tidak sembarang orang bisa menembus gunung itu. Bukan tidak boleh didaki, tapi mesti siap segalanya. Fisik dan mental harus stabil. Ia menyarankan, kalau mau ke puncak agung itu lain waktu lagi. Kapanpun ia siap mengantar, kecuali Sabtu.

Selain menguras tenaga dan emosi, pendakian puncak Gunung Galunggung diwarnai pengalaman spiritual yang jarang dirasakan. Gempa 6,1 SR yang berpusat di barat daya Garut itu membuat diri merasa sangat dekat dengan Sang Pencipta. initasik.com|shan

 

Komentari

komentar

Komentari

Komentari