Pupun Saepul Rohman, ME.Sya | Jay/initasik.com
Informasi

Empat Syarat Agar Jual Beli Kredit tidak Jadi Haram

initasik.com, informasi | Riba dengan jual beli kredit memiliki batas yang tipis. Bila dalam praktiknya tidak sesuai dengan tuntunan agama, kredit bisa terjerumus pada riba. Hukumnya jadi haram.

Pupun Saepul Rohman, ME.Sya, menjelaskan, ada empat syarat yang harus diperhatikan agar jual beli kredit terhindar dari hukum haram. Pertama, jual beli kredit tidak dimaksudkan untuk melegalkan riba.

“Diharamkan memisahkan antara harga barang dan margin yang diikat dengan waktu dan bunga dalam akad,” ujarnya saat memberi materi di Lembaga Kajian dan Konsultasi Ekonomi Syariah, Sabtu, 20 Januari 2018.

Ia mencontohkan, si A menjual motornya seharga Rp 10 juta dengan bunga Rp 1 juta pertahun. Kemudian si B punya motor seharga Rp 10 juta, tapi karena dijual secara kredit ia mematok harga Rp 11 juta. Si A dan si B sama-sama punya untung Rp 1 juta, tapi yang pertama termasuk riba, sedangkan yang kedua sesuai syariat.

“Permasalahan akan timbul ketika transaksi dengan si A melebihi batas jatuh tempo, maka di tahun kedua pembeli harus bayar bunga Rp 1 juta lagi. Sementara transaksi dengan si B, meskipun ada keterlambatan bayar, tetap Rp 11 juta.

Syarat kedua adalah barang telah dimiliki penjual dan telah diterima terlebih dahulu sebelum dijual. Ketiga, harga harus satu dan jelas, serta besarnya angsuran dan jangka waktu harus jelas juga.

“Untuk keabsahan jual beli kredit, pada saat transaksi dibuat harga harus satu dan jelas, serta besarnya angsuran dan jangka waktu pelunasannya harus jelas juga. Tidak boleh membuat harga mengambang dengan cara pihak penjual memberikan potongan harga yang dikaitkan dengan pelunasan angsuran. Jika pembeli melunasi sebelum jatuh tempo pelunasan, maka harga akan dipotong sekian persen. Itu tidak boleh,” papar Pupun.

Menurutnya, potongan harga kredit karena pelunasan sebelum jatuh tempo hukumnya boleh, asal pemotongan harga itu tidak dicantumkan dalam akad jual beli. “Bila pemotongan dicantumkan dalam akad, maka hukumnya haram dan termasuk riba,” tandasnya.

Syarat keempat adalah akad jual beli kredit harus tegas. Tidak boleh akad dibuat dengan cara sewa beli atau leasing. Ketika barang sudah dijual, meskipun secara kredit, barang itu sudah milik pembeli. [Jay]