Edukasi

Game Literasi; Obat Mujarab Bagi Anak-anak yang Malas Membaca

initasik.com, edukasi | Ada banyak cara agar anak keranjingan membaca. Salah satunya melalui permainan. Seperti yang digagas pendiri sekaligus mentor kelompok belajar Satelite, Pipit Indah Purwanti, di rumahnya, di Perum Kota Baru, Kota Tasikmalaya.

Ibunda Muhammad Dihya Aby Manaf, siswa SDN Citapen yang menjadi salah satu delegasi Indonesia untuk mengikuti lomba sains dan seni internasional di Korea Selatan pada Oktober 2016, itu membuat game literasi.

Itu merupakan permainan tanya jawab yang bersumber dari buku. Misal ada anak A dan anak B. Si anak A mengajukan satu pertanyaan yang ia ambil dari satu buku. Pertanyaannya bebas. Kemudian, si anak B harus mencari jawabannya di buku yang sama.

Masing-masing diberi waktu lima menit untuk menggali pertanyaan dan mencari jawabannya. Jika si anak B bisa menjawab, ia boleh mencoret muka si penanya dengan bedak basah dan mendapat makanan ringan yang sudah dipilihnya sebelum menjawab.

Tapi, jika tidak bisa menjawab, ia yang dicoret. “Tiap anak membawa snack apa saja. Itu dikumpulkan dalam satu tempat. Anak yang bias menjawab mendapatkan snack yang sudah dipilihnya lebih dulu sebelum menjawab. Semakin sering bisa menjawab, semakin banyak dapat snacknya. Jadi mereka makin semangat,” tutur Pipit.

Dalam permainan ini, si penanya harus benar-benar paham apa yang ditanyakannya. Tidak boleh asal tanya atau memberi pertanyaan yang rancu, apalagi tidak tahu jawabannya. Jika kondisinya begitu, maka ia akan dicoret dua kali. “Saya sebagai wasitnya,” imbuh istri Indra Somantri itu.

Agar permainan berjalan adil, pertanyaan yang diajukan tidak boleh keluar dari levelnya. Ada level 1, yaitu kelas 1 dan kelas 2, level 2; kelas 3 dan kelas 4, serta level 3; kelas 5 dan kelas 6. Buku yang dipakai, bisa buku pelajaran atau majalah yang berhubungan dengan pelajaran.

Pipit menyebutkan, game literasi itu mulai dipraktikkan sejak pertengahan Januari 2017. Inspirasinya didapat dari para orangtua yang selalu mengeluh anaknya malas membaca. Ia lantas berpikir dan mencari solusi bagaimana agar membaca jadi hal yang menyenangkan. Maka dibuatlah game literasi.

“Tujuan permainan ini untuk memancing anak-anak agar mau membaca. Ada yang senang, karena sudah tahu kira-kira di mana jawaban dari pertanyaan itu. Tapi, ada juga yang terpaksa membuka buku untuk mencari jawabannya, meski sebenarnya ia jarang baca buku,” paparnya.

Dengan dikemas dalam satu permainan, sambung Pipit, semua anak jadi harus membaca buku. Buka-buka buku. “Si penjawab dan pembuat pertanyaan sama-sama tidak sadar kalau mereka sedang membaca buku. Mereka larut dalam permainan,” tandasnya.

Ia menambahkan, sebelumnya ada anak yang paranoid dengan buku. Malas baca buku. Namun, setelah mengikuti permainan itu, mereka malah keranjingan. Menagih game literasi lagi. “Bukunya bebas, tidak harus pelajaran. Buku-bukunya sudah dipersiapkan di perpustakaan kecil kami. Anak-anak boleh pinjam dan dibawa ke rumah biar baca-baca dulu,” jelasnya. [Jay]

Komentari

komentar