Ari Harri Kusmara | Milah/initasik.com
Sosial Politik

Gay Sedang Tren di Kalangan Remaja Kota Tasik?

initasik.com, sosial | Perilaku seks menyimpang, homoseksual, dikabarkan sedang tren di Kota Tasikmalaya. Ari Harri Kusmara, pengelola Program HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, membeberkan tentang persoalan tersebut.

Ia menyebutkan, berdasarkan estimasi Komisi Penanggulangan AIDS nasional, 2012, di Kota Tasikmalaya ada sekitar 7.800 pelaku homoseksual. Namun, yang sudah terjangkau baru 3.000-an orang.

“Jangkauan di lapangan, gay ini sedang tren di kalangan remaja. Usia SMP dan SMA banyak, malah sudah mulai ke SD. Sangat mengkhawatirkan. Mereka sudah muncul kebanggaan ketika bisa menunjukkan kalau dirinya gay. Sudah berani terangan-terangan di media sosial,” tutur Ari, Senin, 18 Desember 2017.

Selain angkanya yang tinggi, ia juga menyesalkan belum ada satupun dinas atau badan kantor yang punya tupoksi untuk menyelesaikan masalah itu. Untuk itu, pihaknya berangkat dari kesehatan.

“Kita mencoba mengatasi masalah ini tidak hanya sekadar agar dia tidak tertular dan menularkan HIV/AIDS, tapi bagaimana mencegah perilaku seperti itu dan bisa keluar dari lingkungan tersebut,” paparnya.

Salah satu langkahnya adalah pencegahan dengan melibatkan seluruh komponen terkait, yaitu remaja, orangtua remaja, dan orangtua yang memiliki anak remaja, termasuk guru di sekolah dan pesantren.

Penting juga membuat tim penjangkauan dan penelaahan tingkat risiko. Menurutnya, homoseksual itu dikelompokkan ke dalam beberapa skala, mulai nol sampai enam. Skala nol itu adalah mereka yang heteroseksual murni, sedangkan skala enam yang sepenuhnya homoseksual.

“Kita buat program terapi rehabilitasi kompherensif LGBT dengan gerakan penanggulangan bahaya homoseksual agar sadar melalui pengembangan pondok pesantren. Polanya kompherensif, seperti pesantren kilat. Di situ yang diintervensi bukan masalah agama saja, tapi juga spiritual, psikologi, psikoterapi, hipnoterapis dan lain-lain. Kita akan coba di pesantren selama delapan sampai sepuluh hari, setelah mereka mengikuti program itu akan ada program lain,” beber Ari.

Namun, program itu tidak akan berdampak baik jika lingkungan sekitarnya tidak memberi dukungan, terutama pihak keluarga yang harus terus memantau perkembangannya. [Milah]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?