Syaepul | initasik.com
Inspirasi

Gilang Romadhon; Penderita Kelainan Tulang yang Berprestasi Gemilang

initasik.com, inspirasi | Gilang Romadhon, 11 tahun, secara fisik memang tidak seberuntung teman-teman sebayanya. Sejak kecil ia menderita kelainan tulang. Rapuh. Mudah pecah. Istilahnya osteogenesis imperfect.

Pergi ke manapun tidak bisa jauh dari kursi roda. Pergi-pulang sekolah mesti diantar ibunya. Kendati begitu, ia tetap ceria. Rona wajahnya memancarkan semangat penuh harapan. Saat initasik.com menghampirinya, ia menoleh dengan tersenyum. Sedikitpun tak memperlihatkan kalau dia kurang sempurna secara fisik. Memancarkan kepercayaan diri yang meyakinkan.

Tuti Rohmayati, ibunda Gilang, mengatakan, anak keduanya itu menderita kelainan tulang sejak kecil. Sebagai seorang ibu, ia paham apa yang harus dilakukannya. Ia tak lelah memotivasi anak-anaknya untuk selalu optimistis menatap masa depan. Terus memompa kepercayaan dirinya dan selalu bersabar dalam setiap keadaan.

Selain Gilang, kedua anaknya yang lain, Vera Utari (21) dan Fadillah (10), bernasib sama. Mereka mengalami kelainan tulang juga. Bedanya, penyakit yang dialami Vera baru muncul saat duduk di bangku SMP.

Kini, Gilang sekolah di SD Muhammadiyah, Jl. Muhammadiyah, Cikedokan, Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya. Ia termasuk siswa cerdas. Tidak bisa berjalan bukan jadi hambatan untuk meraih prestasi gemilang.

Pada 2016 kemarin, ia juara MIPA tingkat Kabupaten, sehingga menjadi perwakilan ke provinsi, dan menjadi pemenang ketiga. Berkat kecerdasaannya tersebut, ia pernah diundang ke salah satu acara TV nasional dan mendapatkan hadiah umroh.

“Karena prestasinya, dia bisa kenal dengan orang-orang besar di Jakarta. Rumah yang sekarang pun sebenarnya milik Gilang. Itu dibeli dengan uang hasil prestasinya,” sebut Tuti yang kini tinggal di Kp. Babakan Karang, Singaparna. Namun, alamat di KTPnya masih  di Kp. Galeong, Desa Nanggerang, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya.

Ia mengaku bersyukur  masih diberi nikmat hidup dari banyak sisi. Kelainan yang dialami anak-anaknya semata takdirNYA. Terima atau tidak, takdir sudah terjadi. “Saya selalu memotivasi mereka. Setiap mengikuti kegiatan apapun saya selalu mengantarnya. Saya tidak malu anak saya seperti ini. Karena ada kelebihan dan kekurangan. Saya tidak merasa malu malahan mah bangga,” tandasnya.

Dengan mata berkaca-kaca, ia mengungkapkan kegembiran dan terima kasih kepada siapa saja yang telah memberikan bantuan. “Dari pemerintah saya tidak pernah mendapatkan bantuan. Saya tidak berani menerima bantuan yang tidak jelas. Ada yang membantu juga dari sedekah rombongan,” sebutnya.

Sampai sekarang, anak-anaknya hanya dikasih obat untuk menahan sakit. Ia mesti menyiapkan uang Rp 141.000 per minggu untuk beli obat itu. Dari ketiga anaknya, yang diobati rutin hanya Gilang Romadhon. Sedangkan yang lainnya sewaktu-waktu kalau terasa nyeri saja. Itu pun, menggunakan obat yang digunakan Gilang. [Syaepul]

Komentari

komentar