Peristiwa

Gubuk Bilik di Dekat Kantor Wali Kota

Kota Tasik | Bagaimana rasanya bertahun-tahun tinggal di gubuk sempit berdinding bilik dan berlantai papan? Hendar Supriatna, warga Cijolang, 03/10, Sukarindik, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, sudah lama merasakannya.

Selama lima tahun lebih ia mendiami gubuk berukuran sekitar 3×4 meter di kompleks pemakaman warga. Tempatnya tidak jauh dari Bale Kota Tasikmalaya. Berjarak lebih kurang 500 meter ke arah terminal, sebelum Mapolresta Kota. Persis di pertigaan menuju Pamijahan atau Gunungbatu.

Tempat tersebut sama sekali tidak layak huni. Semua dinding hanya dari bilik. Papannya pun sebagian tampak keropos. Tak ada barang berharga, kecuali sepeda gowes. Barang lainnya hanya tikar, ember, kastrol, dan tali tambang untuk menggantung baju, karena memang tidak ada lemari. Apalagi Hendar mengaku hanya punya dua pasang pakaian. Untuk memasak, ia menggunakan kayu bakar dengan tungku dari tumpukan genting. Jika hujan, dipastikan tidak bisa memasak, lantaran tungku tersebut berada di luar.

Listrik? Jangan tanya itu. Kendati tempat tinggalnya berada di antara dua kantor para pemimpin, Hendar termasuk warga yang sangat memprihatinkan. Untuk mendapatkan terang di malam hari saja, ia mengandalkan gumpalan kapas yang dilumuri minyak goreng. Sengaja ia tidak menggunakan lilin. Boros, katanya. Ia berpikiran, jika punya uang lebih baik dibelikan beras, bukan lilin. Kalau mau mandi, berangkatlah ia ke sungai yang jaraknya sekitar 10 meter dari gubuknya.

Di tempat itu ia tinggal berdua dengan anaknya, Dani Heriyana, 26 tahun. Istrinya, Dedeh Sumiati, sudah meninggal dunia. Penyakit asma merongrong kesehatannya. “Pami emut bojo, sok sedih abi mah. Biasana aya nu ngarencangan, ayeuna duaan sareng murangkalih. Sok hoyong nangis wae. Tapi ditahan-tahan we. Komo ayeuna calik dinu kieu (Kalau ingat istri saya selalu sedih. Biasanya ada yang menemani, sekarang berdua dengan anak. Ingin menangis. Tapi ditahan. Apalagi sekarang tinggal di tempat seperti ini),” tutur Hendar kepada initasik.com, Kamis, 19 Februari 2015.

Menurutnya, gubuk tersebut dibangun warga Cijolang yang iba kepadanya. Sebelumnya ia mengaku punya rumah. Tapi itu dijual murah untuk mengobati istrinya. Malang tak dapat ditolak, takdir tak mungkin dihindari. Rumah terjual, istri meninggal.

Kini, Hendar mengaku sedang dilanda bingung. Bukan hanya karena ingin segera pindah dari gubuknya itu, tapi juga anaknya akan menikah. Sekitar tiga bulan lagi. Beruntung, calon menantunya mau menerima mereka apa adanya.

Tetap saja Hendar bingung. Sebagai orangtua, ia ingin menyenangkan anaknya yang akan menikah. Apa ada daya, keadaannya serba terbatas. Untuk hidup sehari-hari saja susah. Sudah empat minggu ini ia tidak mendapatkan panggilan pijat. Ya, pijat. Itu satu-satunya pekerjaan yang bisa mendatangkan rupiah. Sekali pijat ia dibayar antara Rp 20 ribu sampai Rp 50 ribu.

Bersyukur, anaknya sedang bekerja di bangunan. Ia tak terlalu kesulitan mendapat makan. Karena tak jarang, mereka harus menahan lapar lantaran keduanya tidak bekerja. “Kieu we padamelan bapa sadidinten teh. Nyabutan jukut. Meresihan makam (Ya begini pekerjaan saya sehari-hari. Cabut rumput. Membersihkan pemakaman),” ujarnya sembari mencabuti rumput yang hidup di sela akar pohon.

Ditanya pernahkah mendapat bantuan dari pemerintah, Hendar menjawab belum. Satu kali pun belum. Kalau yang mendata, katanya, sering. Tapi sampai sekarang belum ada juga. “Sering diukeunan kartu keluarga sareng KTP mah (Kalau diminta kartu keluarga dan KTP mah sering),” imbuhnya. initasik.com|ashani

Komentari

komentar