Peristiwa

Guru Malas Menulis Sulit Naik Pangkat

Kota Tasik | Caswita, ketua Forum Guru Menulis Tasikmalaya, mengatakan, banyak guru yang sulit naik pangkat dari 3 B ke 3 C, lantaran tidak punya karya ilmiah yang dipublikasikan. “Menulis sudah menjadi kebutuhan guru,” tandasnya.

Menurutnya, sampai saat ini masih banyak guru yang belum berani menulis karya ilmiah dan dikirimkan ke koran, misalnya. Padahal mereka sarjana. Pernah membuat skripsi. Tapi, saat diminta karya ilmiah malah jadi tidak percaya diri.

“Untuk itulah kami membuat Forum Guru Menulis. Kami ingin memberi ruang bagi rekan-rekan guru untuk belajar aktif menulis. Belajar mencurahkan ide dan mereflesikan pembelajaran di kelas,” tutur guru Pendidikan Agama Islam di SDN 1 Pengadilan Kota Tasikmalaya.

Ia menegaskan, banyak guru yang tidak percaya diri menulis karena alasan sepele. Takut salah. Ada juga guru yang sudah menulis, lalu dikirimkan ke koran, tidak dimuat, kapok. Gara-gara tidak dicetak dalam koran, padahal baru satu kali kirim tulisan, langsung berhenti menulis.

“Para penulis yang tulisannya sering dimuat di koran atau majalah adalah mereka yang tidak mudah putus asa. Teman saya sampai sepuluh kali kirim tidak dimuat-muat. Tapi dia kirim lagi, kirim lagi, akhirnya dimuat,” ungkapnya.

Sering latihan adalah kuncinya. Latihan menulis. Perbanyak referensi. Sering-sering baca buku, karena salah satu kunci membuka pintu menuli adalah membaca. Diskusi dengan rekan lain pun penting. Di Forum Guru Menulis, semua itu dilakoni. Diskusi, membaca buku, dan latihan menulis.

Sejak diresmikan dua tahun lalu, forum tersebut sudah memerlihatkan peningkatan grafik. Mereka yang semula malas menulis dan tidak percaya diri, kini sudah berubah. Bahkan, para pegiat forum sudah menerbitkan jurnal yang sudah punya nomor seri standar internasioanl atau ISSN. Terbitnya per enam bulan.

“Namanya jurnal Inkripsi. Sekarang baru edisi perdana. Isinya tulisan para guru. Alhamdulillah sudah punya ISSN. Penyebarannya ke seluruh Indonesia. Sampai ke Aceh dan Papua. Saya punya jaringan di Kementerian Agama, jadi koordinasinya mudah,” sebut Caswita.

Ia berharap, jurnal tersebut bisa dimanfaatkan para guru untuk mengembangkan potensi dan posisi diri. Siapapun boleh mengirimkan tulisan untuk dimuat dalam jurnal, asal sesuai dengan gaya selingkung alias pedoman tata cara penulisan.

“Syarat kenaikan pangkat bagi guru adalah punya karya ilmiah yang terbit di jurnal yang sudah berISSN. Jurnal Inkripsi ini sudah punya ISSN. Silakan manfaatkan jurnal ini. Saya ingin gerakan literasi, khususnya di Tasikmalaya, berkembang. Membudaya,” harap juara lomba menulis esai se-Priangan Timur Festival Sastra Aksara II, 2014. initasik.com|shan

Komentari

komentar