Ilyas | initasik.com
Ekbis

Habis Masa Jaya Salak, Ramailah Jualan Tahu Bulat


initasik.com, ekbis | Pedagang tahu bulat yang keliling menggunakan mobil bak sudah biasa masuk ke kampung dan sudut-sudut perkotaan. Semua orang tahu itu. Apalagi mereka punya ciri khas, yaitu cara promosinya yang tidak kepalang tanggung. Pakai pengeras suara dengan macam-macam gaya. Tak mengenal waktu pula. Pukul sembilan malam masih jualan. Tentu dengan memutar rekaman khasnya itu. Tahuuuuu…bulat….

Namun, tak banyak yang tahu asal-usul para pedagangnya. Dari mana dan kenapa mereka memilih jualan tahu bulat. Awalnya dari salak. Ya, salak. Kecamatan Cineam dan Kecamatan Karangjaya Kabupaten Tasikmalaya mempunyai sejarah panjang sebagai daerah penghasil salak. Namun, semua itu sudah berakhir.

“Masa kejayaan perkebunan salak telah usai. Tidak ada yang bisa diharapkan lagi. Salak kita sudah kalah saing dengan salak dari daerah lain yang kualitasnya memang lebih baik,” tutur Maman, salah seorang petani salak yang kini jadi penjual tahu bulat.

Ia memastikan, sebagian besar pedagang salak kini beralih menjadi pedagang tahu bulat. Cara jualannya pun hampir sama saat dagang salak. Pakai mobil bak dan pengeras suara. “Dagang dengan menggunakan mobil pick up ke luar kota sudah tradisi turun-temurun. Dulu bapak saya, sekarang saya. Bedanya, dulu bapak jualan salak, sekarang saya jualan tahu bulat,” ujar Maman yang mengaku dagang tahu bulatnya di Purwakarta.

Asep Ruslan, ketua kelompok Putra Cikal, salah satu kelompok pedagang tahu bulat di Kecamatan Karangjaya, menuturkan, dirinya kini memimpin 60 unit mobil pick up dengan 120 pedagang yang tersebar di tiga kota yaitu Bandung, Depok, dan Malang.

Menurutnya, setidaknya ada lebih dari 500 unit kendaraan pick up berasal dari kecamatan Karangjaya dan Cineam yang dipakai berjualan tahu bulat. Itu artinya lebih dari 1.000 tenaga kerja di dua kecamatan tersebut terserap oleh usaha mikro yang unik ini. “Kira-kira 500-an lebih. Soalnya kelompoknya pun lebih dari sepuluh. Satu kelompok rata-rata 50 sampai 100 mobil,” sebutnya.

Sebagai ketua kelompok ia mempunyai kewajiban untuk menjamin ketersediaan tahu mentah yang didatangkan dari pabrik. “Saya yang mengambil tahu dari pabrik di Ciamis, kemudian disalurkan ke koordinator masing-masing kota, nanti koordinator kota yang mengatur pembagian tahu dan mengatur rute dagang di sana,” paparnya.

Terkait pengadaan mobil, itu diserahkan ke pedagang masing-masing. Ada yang memang sudah punya mobil sendiri, ada yang sewa. Biasanya harga sewa mobil Rp 100 sampai Rp 120 ribu per hari. Tergantung kondisi mobil. Sebagai ketua kelompok, ia pun bertanggung jawab atas kesehatan pedagang. “Kalau ada yang sakit, ada anggaran dari kita untuk ke dokter,” imbuhnya.

Menurutnya, dibanding dulu, penjualan tahu bulat kini mulai menurun. Omzet anjlok hampir 40 persen. Biasanya dalam sehari bisa laku 4.000 sampai 4.500 tahu, sekarang paling 3.000-an, bahkan kadang hanya 2.000 tahu.

Ia menilai, banyak faktor yang membuat omzet penjualan tahu bulat menurun. Terlalu banyak penjual tahu bulat adalah salah satu alasannya. Hampir di semua kota, khususnya di Pulau Jawa, banyak pedagang tahu bulat.

Meski begitu, usaha tahu bulat masih jadi primadona. Sejak jualan tahu bulat, kesejahteraan masyarakat  di sana meningkat. “Yang asalnya tidak punya mobil, sekarang punya mobil. Bahkan ada juga pedagang yang sudah punya lebih dari lima mobil,” sebutnya. [Ilyas]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

Komentari

Komentari