Peristiwa

Hakikat Pendidikan; Mengajak Taat, Menjauhkan dari Maksiat

Kota Tasik | Sejatinya, pendidikan bukan hanya transfer ilmu dari guru ke murid. Bukan semata memenuhi otak anak dengan ilmu-ilmu pengetahuan. Bukan sekadar proses dari tidak tahu menjadi tahu. Ada yang lebih penting dari itu.

Pimpinan Yayasan Ihya As-Sunnah Tasikmalaya, Ustaz Abu Rizal Fadillah, mengatakan, hakikat pendidikan menurut Alquran dijelaskan dalam banyak ayat. Misalnya Surat Al-Baqarah ayat 30; Aku hendak menjadikan khalifah di bumi… atau dalam Surat Az-Zariyat ayat 56; Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.

Menurutnya, proses pendidikan harus mengarah ke sana. Seseorang dikatakan belajar apabila berubah tiga keadaan; pengetahuan, perilaku, dan keterampilannya. “Jika pengetahuannya tidak semakin bertambah, perilakunya tidak semakin baik, dan keterampilannya tidak ada, maka anak itu tidak belajar,” tuturnya.

Seharusnya, semakin sering dia belajar dan mendapat ilmu, semakin besar kemanfaatannya bagi masyarakat. “Dalam salah satu hadis dijelaskan, ajarkan anak taat kepada Allah SWT, jauhkan dia dari maksiat, dan perintahkan dia untuk selalu berzikir. Maka Allah akan menyelamatkannya dari api neraka,” beber Ustaz Abu.

Lantas, siapa yang bertanggung jawab untuk itu? Jawabannya adalah orangtua, kemudian guru. Namun, yang paling dominan adalah orangtua. Tanggung jawab mendidik anak ada di pundak orangtua. Merekalah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.

Imam Gazali berkata, anak adalah amanah. Hatinya masih bersih. Ia juga perhiasan yang sangat indah. Mereka siap menerima apapun yang ditanamkan kepadanya. Jika dibiasakan dengan kebaikan, dan diajarkan kepadanya kebaikan, maka ia akan hidup di atas kebaikan dan mendapat kebahagiaan.

Sebaliknya, jika dibiasakan dengan hal-hal yang buruk, maka dia akan celaka di dunia dan akhirat. “Semua orangtua wajib menjadi guru. Jangan nikah kalau tidak siap menjadi guru. Guru pertama bagi anak-anak adalah orangtua,” tandasnya.

Dalam Alquran Allah Swt berfirman, jagalah diri kalian dan keluarga dari siksa api neraka. Ayan itu menegaskan, orangtua menjadi pihak pertama dan paling bertanggung jawab dalam menjaga diri dan keluarganya.

Caranya adalah dengan mendidik dan mengajarnya. Mengajarkan keindahan akhlak dan menjaganya dari teman yang jahat. Kemudian tidak membiasakan anak untuk hidup bermegah-megahan dan berfoya-foya.

“Karena hidup di dunia ini tidak senantiasa dipenuhi dengan bunga-bungaan. Tidak selamanya wangi. Jika anak dibiasakan dengan senang-senang, dia akan menyia-siakan umurnya saat dewasa. Dia akan menjadi orang yang celaka,” tandasnya.

Ia menegaskan, setiap orangtua harus menjadi guru dan insan pembelajar yang senantiasa haus ilmu. “Orangtua harus punya gelar MSI alias master segala ilmu. Jangan jadi orangtua kalau tidak punya segala ilmu. Banyak baca buku. Ikuti perkembangan zaman,” ujarnya.

Dengan begitu, sambungnya, orangtua akan menjadi contoh yang baik bagi anaknya. Ia tidak hanya merintah anaknya untuk belajar, tapi sudah mencontohkan di rumah dengan, misalnya, banyak baca buku. Ia pun tidak sekadar menyuruh anaknya ke masjid, tapi dirinya pun sudah biasa ke masjid. initasik.com|shan

Komentari

komentar