Eri | initasik.com
Inspirasi

Hanya Lulusan SD, Haji Udin Jadi Peternak Ayam Beromzet Rp 40 Miliar

initasik.com, inspirasi | Puluhan ribu ekor ayam memadati kandang raksasa yang terbuat dari bambu. Satu kandang berisi sekitar 30.000 ayam. Di kompleks peternakan ayam di Kampung Tabrig, Desa Sukamaju, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, itu ada sekitar empat kandang. Luas keseluruhannya kisaran dua hektar.

Peternakan itu milik Haji Udin. Kendati hanya lulusan SD (dulu SR), ia mampu membuktikan kalau rendahnya pendidikan tidak membatasi kesuksesan seseorang. Usaha yang dirintis selama 32 tahun itu kini menghasilkan omzet yang sungguh fantastis. Dengan kerja keras dan semangat pantang menyerah, ia telah membuktikan semua orang bisa sukses.

Menurutnya, dalam sekali siklus, sekitar tiga bulan sekali, ia mampu meraup omzet sampai Rp 40 miliar. Ayam-ayam peliharaannya menyebar ke pasar-pasar di seluruh Indonesia. Dalam usaha yang dinamai Tanjung Mulya itu ia merekrut ribuan peternak ayam potong untuk bergabung dengan perusahaannya, mulai dari Tasikmalaya, Ciamis, Sumedang, hingga Bandung.

“Saya memakai sistem kemitraan. Para peternak hanya menyediakan lahan dan kandang serta tenaga untuk mengurus ayam,” sebutnya.Terkait DOC alias bayi ayam, pakan, dan obat-obatan untuk menunjang pemeliharaan ayam, ia yang menyediakannya.

Perhitungan hasil akhirnya, setiap ayam yang telah siap panen, dihargai dengan harga pasar lalu dikurangi biaya produksi selama pemeliharaan. Dengan menerapkan sistem seperti itu, para peternak tidak akan mengalami kerugian. “Kalaupun ada yang mati, peternak tidak akan rugi. Mereka hanya perlu menuliskan laporan. Jadi, yang kami bayar itu ayam yang masih hidup,” ujarnya.

Haji Udin menambahkan, dalam usaha itu salah satu kendala terbesarnya adalah cuaca. Kondisi cuaca yang tidak menentu dapat menyebabkan DOC sakit, atau bahkan mengalami kematian. “Selain cuaca, dalam usaha ayam ini juga kita tidak boleh berhenti. Entah harga ayam sedang mahal atau murah, siklus panen harus tetap berjalan. Ketika siklus itu sekali saja tidak berjalan, pasti rugi,” tuturnya. [Eri]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?