Inspirasi

Hanya Lulusan SD, Mang Zenal Kuliahkan Delapan Anaknya dari Dagang Bubur

initasik.com, inspirasi | Bubur ayam Zenal sudah menjadi salah satu kuliner melegenda di Kota Tasikmalaya. Tempatnya di Kalektoran atau Jl. R. Ikik Wiradikarta. Buka sejak puluhan tahun lalu. Sampai sekarang masih berjualan.

Zenal Rosadi, pemilik usaha, menceritakan, awal mulanya berjualan bubur saat merantau ke Jakarta pada awal 1960-an. “Sebenarnya setelah lulus SD saya dulu mau meneruskan sekolah, tapi tidak ada biaya. Akhirnya merantau ke Jakarta, meski tidak ada tujuan pasti,” tuturnya saat berbincang pakai bahasa Sunda dengan initasik.com, di tempat jualannya, Kamis, 4 Januari 2018.

Di Jakarta ia bertemu dengan orang Pagerageung yang jualan bubur. Zenal ikut. Waktu itu ia dan sekitar 60 orang lainnya dagang bubur milik orang keturunan Cina. Sistemnya setor. Ia hanya modal tenaga. Jualan bubur dengan cara dipikul.

Itu dilakoninya sekitar sembilan tahun. Pada Desember 1969 ia pulang kampung. Balik ke Tasikmalaya. Jualan bubur lagi. Masih dipikul. Saat menyusuri Jl. Dokar, ia dikejar anjing. Buburnya tumpah.

Pemilik anjing merasa bersalah. Dagangan miliknya diganti uang, plus diberi izin untuk mangkal di tempatnya. Sejak saat itulah ia mangkal di Garuda, Jl. Dokar. Bubur ayam Zenal mulai terkenal, terutama di kalangan keturunan Cina. Pemilik anjing itu mempromosikan bubur itu ke teman-temannya.

Menurutnya, waktu itu orang pribumi masih asing dengan bubur. Banyak yang menyangka mengandung bahan haram, sehingga enggan membeli. Apalagi ada cakuenya yang identik dengan makanan orang Cina. Namun, perlahan dagangannya diterima masyarakat. Bubur ayam Mang Zenal mulai terkenal. Banyak pelanggan.

Saking banyaknya yang ingin membeli buburnya, para pembeli sampai mendatangi rumahnya di Jl. Kalektoran. Padahal, ia siap-siap mau berangkat ke tempat mangkal di Garuda. Sejak itulah ia mulai jualan di rumah. Sampai sekarang masih di sana. Meski berada di gang, tetap saja pembeli berjibun.

Bukan hanya masyarakat biasa, banyak di antara pembeli buburnya yang merupakan pejabat tinggi. Baru-baru ini Menteri BUMN Rini Soemarno sempat singgah ke tempatnya dan menikmati bubur racikan Zenal.

“Sama saja dengan yang lain. Tapi memang sejak dulu sampai sekarang kami  masih menggunakan ayam kampung,” jawab suami Siti Ummi Kulsum dan ayah delapan anak itu saat ditanya resep rahasia bubur buatannya.

Dari jualan bubur itulah ia mampu menguliahkan delapan anaknya. Ada yang di UGM, Unsoed dan lainnya. Anak pertamanya kini jadi arsitek. Ia turut serta dalam pembuatan Bandara Internasional Jawa Barat, Kertajati, Majalengka. Ada pula yang bekerja di bank, jadi notaris, dan pengusaha.

Kendati umurnya kini sudah 78 tahun, Mang Zenal –meski sudah beribadah haji ia tetap menyebut dirinya Mang Zenal– masih turun membantu dalam jualan bubur. Namun, sudah beberapa tahun terakhir ini jarang berada di depan melayani pembeli. Ia memilih kerja di dapur. Menyiapkan suiran daging dan yang lainnya.

Buka setiap hari, mulai pukul enam pagi sampai pukul satu siang, ia dibantu tiga anaknya yang ramah melayani pelanggan. “Kalau sekarang sedang sepi. Sehari paling habis lima kilogram beras. Ayam kampungnya habis delapan ekor yang beratnya sekitar 2,5 kilogram. Tapi kalau akhir pekan bisa habis sampai sepuluh kilogram beras,” papar Mang Zenal.

Kendati terbilang mahal bila dibanding bubur lainnya, bubur ayam Zenal tetap banyak pembelinya. Satu porsi harganya Rp 30 ribu, setengah Rp 20 ribu. Saat lebaran biasanya jadi Rp 35 ribu satu porsi. Menurutnya, kalau ada yang beli Rp 10 ribu tetap dilayani, tapi suiran daging ayamnya sedikit.

Puluhan tahun dagang bubur ayam, Mang Zenal menyebutkan sudah banyak bekas pegawainya yang jualan bubur. Ia mengaku senang bisa turut membuka jalan usaha bagi orang lain. Sampai sekarang banyak di antara mereka yang sering silaturahmi ke rumahnya. [Jay]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?