Sosok

Harjono; Tidak Bisa Main Angklung, Nekat Ajarkan Angklung ke Anak-anak

Kota Tasik | Berawal dari keprihatinan mendengar anak-anak sekitar rumahnya bicara kasar, Harjono tergerak untuk berbuat sesuatu yang konkret. Bukan hanya menggerutu, tapi juga memberi solusi. Meski sedikitpun tidak bisa memainkan angklung, ia akhirnya nekat.

Warga Tawangkulon RW 01, Kelurahan Tawangsari, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, itu mengaku, tak punya latar pendidikan musik atau pernah berkecimpung di seni musik. Do-re-mi pun tak paham. Buta notasi. Bermodal seperangkat angklung yang ada di kantor LPM Kelurahan Tawangsari, ia memberanikan diri mengajak anak-anak untuk belajar angklung.

“Daripada di kantor LPM tidak dipakai, saya izin untuk dibawa ke sini dan digunakan untuk latihan anak-anak,” ujar Harjono yang juga aktif di LPM sebagai ketua koperasi LPM Kelurahan Tawangsari, kepada Siap Belajar saat berbincang di bale warga Tawangkulon, beberapa waktu lalu.

Gayung bersambut. Respons anak-anak pun positif. Namun, masalahnya malah datang dari diri sendiri. Ia tidak bisa memainkan angklung. Tapi, tak ada alasan untuk menyerah pada keadaan. Harjono punya akal. Google. Itu jalan keluarnya. Belajar otodidak. Selama dua bulan ia berguru pada dunia maya.

Desember 2015 terbentuklah Punakawan; Angklung Children Community. Puluhan anak-anak usia SD dan SMP punya rutinitas baru. Setiap Kamis siang, Sabtu sore, dan Minggu pagi mereka berlatih angklung di bale warga. Baru berjalan dua bulan, mereka sudah diminta tampil di depan wali Kota Tasikmalaya dan bermain di Ciamis.

Harjono tidak saja mengajarkan anak-anak bermain angklung. Ia pun perlahan menanamkan pendidikan karakter. Kedisiplinan, misalnya. Setiap anak yang akan latihan, harus mandi dan salat asar dulu.

“Kalau belum mandi dan belum salat, saya suruh pulang lagi. Suruh mandi dulu. Solidaritas di antara mereka juga terbangun. Pernah ada temannya yang sakit, mereka inisiatif patungan Rp 2.000 untuk membeli roti,” tuturnya seraya menambahkan, sekarang jarang lagi terdengar anak-anak mengabsen penghuni kebun binatang. Misi berhasil.

Kini Harjono punya mimpi lain. Ia dan masyarakat setempat sudah sepakat untuk menjadikan bale warga sebagai pusat latihan angklung bagi anak-anak Kota Tasikmalaya. “Kalau soal peralatan masih kurang lengkap. Kita belum punya arumba, bass party, gendang, dan suling. Kalau keyboard kita sudah punya, tapi itu masih ngutang,” sebutnya.

Meski begitu, latihan tetap berjalan. Apalagi, setelah lima bulan berjalan sejak dibentuk, Harjono dibantu Tendi, guru kesenian SMAN 2 Kota Tasikmalaya. Latihan semakin terarah, dan ilmu pun kian terasah.

“Dari 40 lagu yang dikenalkan, anak-anak sudah menguasai 25 lagu. Ada lagu daerah, lagi wajib nasional, pop, dangdut, hingga lagu barat. Harapan saya mereka bisa menjadi instruktur untuk anak-anak lain yang ingin belajar angklung. Masyarakat di sini kan sudah sepakat bahwa tempat ini boleh jadi pusat bermain angklung untuk anak-anak Kota Tasik,” tandasnya. initasik.com|shan

Komentari

komentar