Inspirasi

Haryati Bordir, Berawal dari Pinjaman Rp 25 Ribu

Kota | Di dunia bordir, nama yang satu ini telah menancap kuat. Haryati bordir. Perjalanannya terbilang panjang. Sejak 1968. Manis-pahitnya usaha sering dirasakan. Berkali-kali jatuh, lalu bangun lagi.

Ai Haryati, pemilik merk yang dipatenkan sejak 1992 itu, berbagi kisah selama menekuni usahanya. Awal merintis, 1968, ia dan suaminya, Tarmidi, memasang merk “Toeratex”. Bukan membuat mukena atau kerudung, melainkan pakaian anak.

“Dulu, kami dapat pinjaman Rp 25 ribu dari BRI. Itu dibelikan kain, lalu dibuat baju anak-anak dan dijual ke Purwakerto atau Semarang. Suami yang memasarkannya, naik bis,” ujar Haryati kepada initasik.com, beberapa waktu lalu.

Sedang semangat-semangatnya dagang, Haryati kena musibah. Waktu itu Madiun banjir. Barang-barang miliknya terendam air, sehingga tidak bisa dijual. “Saya lupa tahunnya,” kata perempuan kelahiran 17 November 1951 itu.

Musibah tak berhenti di sana. Pasar tanah abang tempatnya berjualan, kebakaran. Bukan hanya sekali, tapi sampai empat kali. Belum lagi ditipu sama pembeli. “Pahit getirnya telah saya rasakan. Yang jelas, di bawah tahun 90-an, merupakan fase yang berat. Pernah juga ditipu Rp 58 juta. Waktu itu kan uang sebesar itu sangat berharga,” tuturnya.

Kendati berkali-kali mendapat pengalaman yang menohok batin, Haryati tak patah arang. Ia  terus bergulat. Lalu, sejak 1992, ia mengubah bendera usahanya menjadi “Haryati Bordir”. Sedangkan merk “Toeratex” dijalankan anak sulungnya.

Kini, produk-pruduknya tak lagi dijual di pasar umum, tapi masuk ke butik-butik. Harga yang ditawarkannya mulai Rp 200 ribu sampai Rp 4 juta lebih /psc. Bukan hanya di Indonesia, melainkan sampai ke Arab Saudi, Brunei Darussalam, Singapura, dan Malaysia. “Berkaca pada pengalaman, saya jadi lebih berhati-hati. Kalau ada yang minta dikirim barang, tidak akan diberi kalau belum ditransfer uangnya. Kecuali kalau dengan yang sudah sangat dekat dan dipercaya,” tandasnya.

Namun, saat ditanya soal omzet, Haryati geleng kepala. Ia tak mau jawab. Yang jelas, kini karyawannya mencapai 300 orang, dan memiliki gerai pakaian yang sangat luas di Jl. Air Tanjung, Kawalu, Kota Tasikmalaya. “Jangan patah semangat. Harus gigih. Pandai-pandailah melihat peluang. Sampai sekarang pun saya masih belajar,” tandasnya berbagi kiat usaha. initasik.com|ashani

 

Komentari

komentar