Psikologi

Hati-hati! Kejahatan Hipnotis Muncul Lagi

Kota Tasik | Lima pelajar salah satu SMA negeri di Kota Tasikmalaya menjadi korban hipnotis di Jl. Tentara Pelajar, Kota Tasikmalaya, Sabtu, 26 Desember 2015. Empat orang kehilangan telepon seluler, sedangkan yang satu selamat, meski terpengaruh hipnotis juga. Total kerugian mencapai Rp 9 juta.

Kelima pelajar yang masih duduk di kelas 10 dan satu tim basket itu adalah Gita Adela, Ajeng Maharani, Injani Nurpajrin, Kyla Salwa, dan Aisyah. Hape milik Gita tidak berpindah tangan ke pelaku hipnotis, karena mengaku tidak membawa ponsel.

Gita menceritakan, setelah latihan basket di Dadaha, ia dan teman-temannya  mau ke Citapen. Mereka jalan kaki lewat Jl. Tentara Pelajar. Di daerah pertigaan Jl. Panyerutan, mereka ditanya seorang lelaki berpakaian rapi. Dia bertanya tempat kostan. Gita mengaku tidak tahu.

“Lalu dia (pelaku) pura-pura nelepon. Katanya, ‘Siap, kapten. Lagi di mana?’,” ujar Gita menirukan ucapan si pelaku, seusai melapor ke Polsek Cihideung.

Gita melanjutkan, pelaku mengaku sedang mengintai buronan pengedar narkoba. Ia lantas minta bantuan kepada para korban untuk melihat beberapa tempat di sekitar jalan tersebut. Mereka manut. Dua orang disuruh masuk ke salah satu gang dekat kantor sebuah bimbingan belajar, dua lagi ke titik lain, dan seorang ke tempat berbeda, tapi masih di seputaran Jl. Tentara Pelajar.

Sekitar satu jam kemudian, mereka baru sadar. Setelah semuanya berkumpul, masing-masing menanyakan hape kepada teman-temannya. Semua geleng kepala. Ajeng, Injani, Kyla, dan Aisyah mengaku tidak tahu kapan handphone milik mereka berpindah tangan. “Kalau saya sejak awal sudah bilang (kepada pelaku) tidak bawa hape,” ujar Gita.

Sadar menjadi korban kejahatan hipnotis, mereka lapor ke Polsek Tawang. Tapi setelah sampai kantor polisi, mereka disuruh ke Polsek Cihideung, karena tempat kejadian perkara (TKP) masuk wilayah Cihideung. Namun, petugas di Polsek Cihideung pun kebingungan, karena menurutnya TKP tersebut masuk Tawang. Kendati begitu, laporan tetap diterima dan diproses. Menurut polisi, setelah lama tak ada yang melapor karena dihipnotis, kini kejahatan itu rupanya muncul lagi.

Gita menambahkan, pelaku sudah mengikutinya sejak dari Dadaha. Ia sama-sama jalan kaki. Menurutnya, pelaku tidak menepuk atau menyentuh korban. “Tapi tatapan matanya tajam. Dia pakai masker seperti yang di rumah sakit, jadi wajahnya tidak kelihatan. Kami jadinya hanya bisa melihat matanya,” tutur Gita. initasik.com|shan

Komentari

komentar