Peristiwa

Haurkuning Besar Karena Satu Alasan

Kabupaten Tasik | Ilmu modern mana yang bisa menerima argumentasi pendirian pondok pesantren di atas bukit yang tidak memiliki akses jalan memadai? Jika memakai ilmu analisa pasar, misalnya, pasti tidak akan masuk. Tapi, hal itu tidak berlaku bagi Kiai Saepudin Zuhri saat mendirikan Pesantren Haurkuning (Sekarang namanya ditambah Baitul Hikmah) di Kp. Haurkuning, Desa Mandalaguna, Kecamatan Salopa, Kabupaten Tasikmalaya, 50 tahun silam.

“Bapa (KH. Saepudin Zuhri Rahimullah, red) memutuskan mendirikan pesantren di sini atas dasar petunjuk guru-gurunya. Juga hasil istikharah beliau. Meskipun tempatnya tidak memberikan kemudahan, Bapa yakin akan satu hal. Allah SWT akan menolongnya. Beliau menyerahkan segalanya kepada Allah SWT,” papar putra pertama almarhum yang kini diangkat menjadi pimpinan ponpes, KH. Busyrol Karim Zuhri, kepada initasik.com saat diwawancara di kediamannya, Minggu (10/8).

Menurutnya, saat dulu ayahandanya merintis pesantren, tidak sedikit masyarakat yang menertawakan. Bagaimana tidak? Jalan yang ada hanya setapak. Kalau hujan, licin jadi ancaman. Para santri mesti berjuang keras mendaki bukit, sambil berpegangan pada akar. Listrik? Itupun belum ada.

“Kalau Bapa hanya mengandalkan akalnya, pesantren ini tidak akan sebesar sekarang. Jawabannya hanya satu, yaitu keyakinan kepada Allah SWT. Kalau segala sesuatu diserahkan kepada Allah, segalanya akan menjadi kecil. Segalanya gantungkan kepada Allah. Haur Kuning tidak mengenal buldoser, tapi bisa sebesar sekarang. Modalnya hanya satu; dekatkan diri kepada Allah SWT,” tandas Kiai Busyrol.

Ia menyebutkan, saat pertama didirikan, jumlah santri hanya lima orang. Tapi sekarang, tercatat ada 1.600 orang yang menimba ilmu di Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning. “Mohon doanya agar kami bisa menjaga amanah pesantren ini,” imbunya. initasik.com|ashani/usep

Komentari

komentar